VISI | Lepaskan
Maka kepada siapa pun yang hari ini sedang kecewa, mari belajar melepaskan. Lepaskan marah yang tidak produktif. Lepaskan dendam. Lepaskan keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu. Lepaskan keterikatan pada hasil. Tetapi jangan lepaskan iman. Jangan lepaskan akal sehat. Jangan lepaskan kepedulian. Jangan lepaskan keberanian untuk memperbaiki. Dan jangan lepaskan harapan. Sebab melepaskan bukan berarti lari dari kenyataan. Melepaskan berarti menerima kenyataan tanpa membiarkan kenyataan menghancurkan diri kita. Mengikhlaskan bukan berarti membenarkan kesalahan. Mengikhlaskan berarti tidak membiarkan kesalahan orang lain mengubah kita menjadi manusia yang penuh kebencian. Kita boleh berkata: "Saya kecewa, tetapi saya tidak akan kehilangan arah." "Saya terluka, tetapi saya tidak akan menjadi manusia yang melukai." "Saya tidak mampu mengubah semuanya, tetapi saya masih mampu memperbaiki sesuatu." Dan akhirnya: "Ya Allah, saya kembalikan semuanya kepada-Mu."
Inilah kelanjutan dari jeda yang pernah kita bicarakan. Jika jeda mengajarkan kita berhenti sejenak, maka lepas mengajarkan kita menjadi ringan. Jeda memberi ruang untuk berpikir. Lepas memberi ruang untuk menerima. Jeda membuat kita tidak tergesa-gesa. Lepas membuat kita tidak terus-menerus terikat. Keduanya bermuara pada satu hal: ketenangan.
Negeri ini masih akan menghadapi banyak persoalan. Suara-suara mungkin masih akan bersahutan. Berita mungkin masih akan datang dengan segala kejutan. Tetapi kita tidak harus kehilangan diri sendiri hanya karena dunia sedang gaduh. Kita tetap bisa menjadi guru yang menyalakan cahaya. Tetap bisa menjadi manusia yang kritis tanpa kehilangan kesantunan. Tetap bisa memperjuangkan kebenaran tanpa memelihara kebencian. Dan tetap bisa berharap ketika keadaan belum sesuai dengan harapan. Pada akhirnya, kita bukan pengendali kehidupan. Kita hanya menjalani amanah. Allah yang menghidupkan. Allah yang mematikan. Allah yang mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Allah pula yang paling tahu kapan sebuah benih harus tumbuh dan kapan sebuah kesombongan harus berakhir.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!