Hari Terakhir Pencarian 8 Orang Hilang di Anak Krakatau, SAR Siapkan Perpanjangan 17 Sep 2026 Jamsostek Award 2026 Perkuat Perlindungan Pekerja di Jawa Barat 17 Sep 2026 Abdul Azis Sefudin Tekankan Solidaritas untuk Jaga Persatuan di Tengah Keberagaman 17 Sep 2026 VISI | Pemberhentian 17 Sep 2026 Buntut Dugaan Pelecehan, Oknum Pejabat Dishub Sukabumi Diberhentikan Sementara 17 Sep 2026 Update Ranking Liga Indonesia Usai Persib Kalahkan FC Seoul 17 Sep 2026 Timnas U20 Indonesia Gelar TC di China Jelang Piala Asia 2027 17 Sep 2026 Rupiah Kamis Ditutup Melemah ke Rp17.753 per Dolar AS 17 Sep 2026 Soal Usulan Parliamentary Threshold 5%, PAN Ingatkan Perbaikan Kualitas Pemilu Lebih Mendesak 17 Sep 2026 KPK Geledah Ruangan Dirjen PPTR Terkait Suap HGB 17 Sep 2026 Hari Terakhir Pencarian 8 Orang Hilang di Anak Krakatau, SAR Siapkan Perpanjangan 17 Sep 2026 Jamsostek Award 2026 Perkuat Perlindungan Pekerja di Jawa Barat 17 Sep 2026 Abdul Azis Sefudin Tekankan Solidaritas untuk Jaga Persatuan di Tengah Keberagaman 17 Sep 2026 VISI | Pemberhentian 17 Sep 2026 Buntut Dugaan Pelecehan, Oknum Pejabat Dishub Sukabumi Diberhentikan Sementara 17 Sep 2026 Update Ranking Liga Indonesia Usai Persib Kalahkan FC Seoul 17 Sep 2026 Timnas U20 Indonesia Gelar TC di China Jelang Piala Asia 2027 17 Sep 2026 Rupiah Kamis Ditutup Melemah ke Rp17.753 per Dolar AS 17 Sep 2026 Soal Usulan Parliamentary Threshold 5%, PAN Ingatkan Perbaikan Kualitas Pemilu Lebih Mendesak 17 Sep 2026 KPK Geledah Ruangan Dirjen PPTR Terkait Suap HGB 17 Sep 2026

VISI | Lepaskan

ED
Kamis, 17 September 2026 | 10:27 WIB
Bagikan
VISI | Lepaskan

Pertanyaan semacam itu tidak selalu mudah dijawab. Dan guru tidak harus berpura-pura mengetahui semuanya. Ada kalanya jawaban terbaik justru: "Bapak/Ibu belum tahu secara utuh. Mari kita pelajari bersama." Itu bukan kelemahan. Itu kejujuran. Dan kejujuran adalah bagian dari pendidikan.

Guru tidak harus menjadi pengeras suara bagi kegaduhan negeri. Guru harus menjadi filter. Membantu peserta didik membedakan fakta dan opini. Membedakan kritik dan kebencian. Membedakan informasi dan provokasi. Mengajarkan mereka untuk tidak terburu-buru menyimpulkan hanya karena melihat sebuah potongan video atau membaca sebuah judul berita. Sebab generasi masa depan tidak cukup hanya memiliki kecerdasan akademik. Mereka membutuhkan kecerdasan dalam mengelola informasi dan emosi. Mereka harus belajar bahwa tidak semua hal perlu ditanggapi. Tidak semua komentar harus dibalas. Tidak semua perbedaan harus dilawan. Dan tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan kemarahan. Ada saat untuk berbicara. Ada saat untuk bertanya. Ada saat untuk berjuang. Dan ada saat untuk melepaskan.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah bagaimana kekuasaan diperlakukan. Jabatan seharusnya membuat seseorang semakin sadar bahwa dirinya sedang memegang amanah, bukan semakin merasa menjadi penguasa atas manusia lain. Ketika ego terlalu besar, pemimpin mudah kehilangan kemampuan untuk mendengar. Ketika kepentingan kelompok terlalu dominan, kepentingan publik bisa terpinggirkan. Ketika kritik dianggap sebagai ancaman, pemimpin akan kehilangan cermin untuk melihat kekurangannya sendiri. Padahal seorang pemimpin tidak menjadi rendah hanya karena mengatakan, "Saya keliru." Justru keberanian mengakui kesalahan merupakan tanda bahwa seseorang masih memiliki ruang bagi nurani. Jabatan akan berganti. Kekuasaan akan berpindah. Orang yang hari ini berada di atas, suatu saat akan kembali menjadi manusia biasa. Maka tidak ada alasan untuk terlalu sombong terhadap kekuasaan.

Ada hukum kehidupan yang sederhana: Apa yang ditanam, pada waktunya akan dituai. Kita tidak perlu sibuk menjadi hakim bagi orang lain. Tidak perlu menunggu seseorang jatuh. Tidak perlu mendoakan keburukan bagi mereka yang pernah mengecewakan. Serahkan kepada Tuhan. Sebab tugas kita bukan menentukan kapan seseorang menerima akibat dari perbuatannya. Tugas kita adalah memastikan apa yang sedang kita tanam hari ini. Apakah kita menanam kejujuran? Kebaikan? Keadilan? Kerendahan hati? Atau justru kesombongan, kebencian, dan dendam? Kita tidak pernah tahu kapan buahnya akan datang. Tetapi Tuhan tahu. Dan karena Tuhan tahu, kita tidak perlu mengambil alih pekerjaan Tuhan. Lepaskan.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.