VISI | Lepaskan
Pertanyaan semacam itu tidak selalu mudah dijawab. Dan guru tidak harus berpura-pura mengetahui semuanya. Ada kalanya jawaban terbaik justru: "Bapak/Ibu belum tahu secara utuh. Mari kita pelajari bersama." Itu bukan kelemahan. Itu kejujuran. Dan kejujuran adalah bagian dari pendidikan.
Guru tidak harus menjadi pengeras suara bagi kegaduhan negeri. Guru harus menjadi filter. Membantu peserta didik membedakan fakta dan opini. Membedakan kritik dan kebencian. Membedakan informasi dan provokasi. Mengajarkan mereka untuk tidak terburu-buru menyimpulkan hanya karena melihat sebuah potongan video atau membaca sebuah judul berita. Sebab generasi masa depan tidak cukup hanya memiliki kecerdasan akademik. Mereka membutuhkan kecerdasan dalam mengelola informasi dan emosi. Mereka harus belajar bahwa tidak semua hal perlu ditanggapi. Tidak semua komentar harus dibalas. Tidak semua perbedaan harus dilawan. Dan tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan kemarahan. Ada saat untuk berbicara. Ada saat untuk bertanya. Ada saat untuk berjuang. Dan ada saat untuk melepaskan.
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah bagaimana kekuasaan diperlakukan. Jabatan seharusnya membuat seseorang semakin sadar bahwa dirinya sedang memegang amanah, bukan semakin merasa menjadi penguasa atas manusia lain. Ketika ego terlalu besar, pemimpin mudah kehilangan kemampuan untuk mendengar. Ketika kepentingan kelompok terlalu dominan, kepentingan publik bisa terpinggirkan. Ketika kritik dianggap sebagai ancaman, pemimpin akan kehilangan cermin untuk melihat kekurangannya sendiri. Padahal seorang pemimpin tidak menjadi rendah hanya karena mengatakan, "Saya keliru." Justru keberanian mengakui kesalahan merupakan tanda bahwa seseorang masih memiliki ruang bagi nurani. Jabatan akan berganti. Kekuasaan akan berpindah. Orang yang hari ini berada di atas, suatu saat akan kembali menjadi manusia biasa. Maka tidak ada alasan untuk terlalu sombong terhadap kekuasaan.
Ada hukum kehidupan yang sederhana: Apa yang ditanam, pada waktunya akan dituai. Kita tidak perlu sibuk menjadi hakim bagi orang lain. Tidak perlu menunggu seseorang jatuh. Tidak perlu mendoakan keburukan bagi mereka yang pernah mengecewakan. Serahkan kepada Tuhan. Sebab tugas kita bukan menentukan kapan seseorang menerima akibat dari perbuatannya. Tugas kita adalah memastikan apa yang sedang kita tanam hari ini. Apakah kita menanam kejujuran? Kebaikan? Keadilan? Kerendahan hati? Atau justru kesombongan, kebencian, dan dendam? Kita tidak pernah tahu kapan buahnya akan datang. Tetapi Tuhan tahu. Dan karena Tuhan tahu, kita tidak perlu mengambil alih pekerjaan Tuhan. Lepaskan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!