VISI | Lepaskan
Dalam perspektif hipnoterapi dan NLP, seseorang sering kali membutuhkan proses untuk melepaskan keterikatan emosional terhadap pengalaman yang membebani. Sebuah peristiwa mungkin sudah berlalu, tetapi pikiran masih terus mengulangnya. Kejadiannya telah selesai, tetapi emosi seolah belum mendapatkan izin untuk pergi.
Di sinilah pelepasan menjadi bagian penting dari proses pemulihan. Melepaskan bukan menghapus ingatan. Bukan pula berpura-pura bahwa sesuatu tidak pernah terjadi. Melepaskan adalah mengubah hubungan kita dengan pengalaman tersebut. Peristiwa tetap menjadi pelajaran, tetapi tidak lagi menjadi penjara. Kita tetap mengingat, tetapi tidak terus-menerus terluka. Kita tetap kritis, tetapi tidak dikuasai kebencian. Kita tetap memperjuangkan kebenaran, tetapi tidak kehilangan ketenangan. Dalam bahasa agama, mungkin inilah yang kita kenal sebagai ikhlas. Ikhlas bukan mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah benar. Ikhlas adalah menerima kenyataan setelah melakukan ikhtiar, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Ada perumpamaan sederhana. Ketika tangan menggenggam sesuatu terlalu kuat, telapak tangan akan terasa sakit. Semakin kuat digenggam, semakin besar rasa sakitnya. Demikian pula kemarahan. Kita sering merasa bahwa dengan menyimpan kemarahan, kita sedang menghukum orang lain. Padahal belum tentu. Bisa jadi orang yang kita marahi sudah melanjutkan hidupnya, sementara kita masih membawa peristiwa itu ke mana-mana. Karena itu, sesekali kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Sampai kapan saya harus membawa beban ini? Sampai kapan sebuah peristiwa harus mengambil ketenangan saya? Sampai kapan perilaku orang lain menentukan suasana hati saya? Pertanyaan itu bukan untuk membuat kita pasrah. Justru untuk mengembalikan kendali kepada diri sendiri.
Bagi seorang guru, kemampuan melepaskan menjadi semakin penting. Guru harus tetap menjadi cahaya. Namun cahaya tidak harus ikut terbakar oleh kegelapan. Guru boleh kecewa melihat keadaan. Guru boleh prihatin terhadap persoalan negeri. Guru boleh kritis terhadap kebijakan yang dianggap tidak tepat. Tetapi guru harus berhati-hati agar kegelisahan pribadi tidak berubah menjadi beban psikologis bagi peserta didik. Anak-anak datang ke sekolah membawa banyak pertanyaan. Mereka melihat berita. Mereka mengikuti media sosial. Mereka mengetahui berbagai persoalan yang terjadi di negeri ini. Tidak jarang mereka bertanya kepada guru: "Pak, mengapa negeri kita seperti ini?" "Bu, mengapa orang yang salah bisa tetap terlihat tenang?" "Kalau memang keliru, mengapa tidak segera diperbaiki?"
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!