Punya Lahan Terbatas? Ini 5 Tanaman Buah yang Bisa Ditanam di Pot 16 Sep 2026 Marc Klok Apresiasi Bobotoh yang Terbang Jauh ke Seoul 16 Sep 2026 PT Virgo Tanggung Biaya Pemulangan Jenazah 16 Sep 2026 Rokhmat Ardiyan Minta RKAB Batubara Tak Ganggu Pasokan Listrik 16 Sep 2026 Pramono Minta Danantara Bantu Perpanjang LRT, Begini Respons Prabowo 16 Sep 2026 Pelatihan Literasi Digital dan Jurnalistik: Teguh Purwayadi Soroti Darurat Judol dan Hoaks 16 Sep 2026 Ida Nurlaela Minta Pemerintah Antisipasi Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi 16 Sep 2026 FC Seoul vs Persib Disiarkan di TV Mana? Ini Jadwalnya 16 Sep 2026 Rycko Menoza Dorong Percepatan Perbaikan Sekolah Rusak Akibat Gempa NTT 16 Sep 2026 Reuni Singkat, Oh In-kyun Doakan Persib Menang 16 Sep 2026 Punya Lahan Terbatas? Ini 5 Tanaman Buah yang Bisa Ditanam di Pot 16 Sep 2026 Marc Klok Apresiasi Bobotoh yang Terbang Jauh ke Seoul 16 Sep 2026 PT Virgo Tanggung Biaya Pemulangan Jenazah 16 Sep 2026 Rokhmat Ardiyan Minta RKAB Batubara Tak Ganggu Pasokan Listrik 16 Sep 2026 Pramono Minta Danantara Bantu Perpanjang LRT, Begini Respons Prabowo 16 Sep 2026 Pelatihan Literasi Digital dan Jurnalistik: Teguh Purwayadi Soroti Darurat Judol dan Hoaks 16 Sep 2026 Ida Nurlaela Minta Pemerintah Antisipasi Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi 16 Sep 2026 FC Seoul vs Persib Disiarkan di TV Mana? Ini Jadwalnya 16 Sep 2026 Rycko Menoza Dorong Percepatan Perbaikan Sekolah Rusak Akibat Gempa NTT 16 Sep 2026 Reuni Singkat, Oh In-kyun Doakan Persib Menang 16 Sep 2026

VISI | Tangis Orangutan

Desi Rossilawati
PN
Penulis Penulis
Selasa, 15 September 2026 | 10:49 WIB
Bagikan
/

Oleh: Prof. Ganjar Kurnia

Pagi itu, hutan tidak membangunkan penghuninya dengan suara burung. Hutan membangunkan mereka dengan api. Mula-mula terdengar ranting-ranting patah. Kemudian daun-daun berdesis seperti sedang mengucapkan doa terakhir. Asap merayap dari balik pepohonan, memanjat batang, menyusup ke sarang, lalu memenuhi langit. Matahari berubah menjadi bola merah yang tampak malu menyaksikan bumi.

Seekor induk orangutan memeluk anaknya. Tubuh kecil itu hangat dan gemetar. Ia belum mengerti mengapa pohon-pohon yang kemarin memberinya buah, pagi ini menjatuhkan bara. Ia belum tahu bahwa api tidak selalu lahir dari petir. Api bisa datang dari kepala manusia—dari angka keuntungan, peta konsesi, tanda tangan, dan sebilah korek yang dinyalakan tanpa mendengar suara makhluk lain.

Mereka berlari. Namun, ke manakah orangutan harus berlari ketika rumahnya sendiri mengejar dalam bentuk api? Dahan yang diraih patah. Kulit telapak tangan melepuh. Bulu di  lengannya terbakar. Anaknya batuk di dada. Batuk itu kecil, tetapi terdengar lebih keras daripada pohon-pohon yang roboh.

Di bawah, api menjulurkan lidah. Di atas, asap menghapus jalan. Mereka terperangkap di antara bumi yang membakar dan langit yang tidak lagi dapat bernapas.

Di tengah kepanikan, sang induk mungkin masih mengingat pohon tua tempat ibunya dahulu mengajarinya memilih buah yang matang. Pohon itu telah hidup jauh sebelum manusia membuat sertifikat tanah. Pada dahannya, beberapa generasi orangutan belajar berayun, tidur, takut, melahirkan, dan mencintai.

Kini pohon tua itu berdiri sebagai obor raksasa. Burung-burung terbang meninggalkannya, sementara sarang-sarang jatuh menjadi abu. Mungkin setelah api padam, manusia akan datang membawa kamera. Mereka akan memotret tubuh yang kurus, mata yang merah, dan luka bakar pada tangan. Mereka akan menulis: orangutan berhasil dievakuasi.

Kata “berhasil” memang sering dipakai manusia untuk menghibur dirinya sendiri. Orangutan diselamatkan dari api, tetapi siapa yang menyelamatkan hutan?

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.