VISI | Tangis Orangutan
Hari-hari berikutnya, lapar datang dengan sangat sopan. Ia tidak berteriak. Ia hanya duduk di dalam perut, kemudian perlahan-lahan memakan kekuatan. Buah-buahan telah menjadi arang. Daun muda telah menjadi abu. Kulit pohon yang pahit terpaksa dikunyah, sebagai kepahitan dapat menunda kematian.
Anak orangutan menatap induknya. Barangkali ia bertanya mengapa tidak ada lagi buah yang manis. Sang induk tentu tidak dapat menjelaskan bahwa manusia sedang membutuhkan tanah untuk ditanami sesuatu yang tidak bisa mereka makan. Ia tidak mengerti tentang investasi, pertumbuhan ekonomi, devisa, maupun izin pengelolaan. Lagi pula, bagaimana menjelaskan semua itu kepada seekor anak yang hanya mengenal lapar?
Sang induk hanya mampu memeluknya lebih erat. Seekor ibu tidak mempunyai kebijakan kehutanan. Ia hanya mempunyai dada untuk menyembunyikan anaknya dari ketakutan.
Pada malam hari, pohon-pohon tumbang satu demi satu. Suaranya seperti pintu rumah yang dibanting dari dalam. Bintang-bintang tidak terlihat. Bulan menggantung sebagai lampu yang kehabisan minyak. Di kejauhan, api masih berjalan dari pohon ke pohon, seperti petugas yang sedang memeriksa kepemilikan tanah.
Tidak jelas lagi siapa pemilik hutan itu. Manusia menyebutnya milik negara, milik perusahaan, milik masyarakat, atau milik seseorang yang namanya tertulis pada selembar dokumen. Orangutan tidak mempunyai surat kepemilikan. Mereka hanya mempunyai ingatan: di pohon itu seekor induk pernah melahirkan, di sungai itu kawanan pernah minum, dan di dahan itu anak-anak belajar mengenal ketinggian.
Ketika beberapa manusia menemukan induk dan anak itu, keduanya sudah terlalu lemah untuk melawan. Para penolong mengenakan masker, sementara orangutan telah berhari-hari menghirup asap tanpa perlindungan. Tubuh kecil sang anak diangkat. Luka-lukanya diperiksa. Keduanya kemudian dibawa meninggalkan hutan.
Dari dalam kendaraan, sang induk menoleh ke belakang. Hutan telah berubah menjadi hamparan hitam. Batang-batang pohon berdiri hangus seperti nisan tanpa nama. Tidak ada lagi suara rangkong, teriakan siamang, atau desir daun. Hanya asap tipis yang naik perlahan, seakan-akan arwah hutan sedang mencari jalan menuju langit.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!