VISI | Tangis Orangutan
Di ruang perawatan, tangan-tangan manusia menyentuh luka mereka dengan hati-hati. Manusia memang makhluk yang ganjil: sebagian membakar rumah orangutan, sebagian lainnya datang membawa obat untuk menyembuhkan luka mereka. Tangan yang satu membawa api. Tangan yang lain membawa perban.
Anak orangutan tertidur di samping induknya. Napasnya pendek-pendek. Di dalam dadanya mungkin masih tersimpan asap dari ribuan pohon. Sang induk mengusap kepalanya, barangkali sambil membayangkan suatu hari mereka akan dikembalikan ke hutan. Namun, hutan dimana?
Di luar, manusia berbicara tentang luas lahan yang terbakar. Mereka menyebut angka-angka, hektare demi hektare. Namun, tidak seorang pun dapat menghitung berapa banyak ketakutan yang terbakar bersama hutan. Tidak ada alat ukur untuk menghitung kepedihan seekor induk, kebingungan seekor anak, atau kesunyian yang tertinggal setelah suara burung terakhir menghilang.
Ketika pagi datang, anak orangutan itu kembali batuk. Sang induk kembali memeluknya. Matahari mencoba masuk ke bumi, tetapi tertahan kabut asap. Pada saat itu, terasa bahwa bukan hutan yang sedang terbakar, tetapi manusia yang terus menerus membakar dirinya dengan api keserakahan. Innalillahi.
150926
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!