VISI | Lepaskan
Oleh: Drajat
- Guru
- Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
- Wasekjen Komnasdik
- Master Hipnoterapis
- APKS PGRI Prov. Jabar
ADA saatnya kita lelah bertanya: mengapa negeri ini seperti tidak pernah selesai dengan kegaduhannya? Satu persoalan belum selesai, muncul persoalan lain. Satu keputusan belum sempat dipahami, sudah memunculkan perdebatan baru. Berita datang silih berganti, komentar memenuhi ruang publik, sementara masyarakat dipaksa menyaksikan berbagai peristiwa yang kadang sulit dicerna oleh akal sehat.
Belum lama ini ruang publik kembali ramai oleh pemberitaan mengenai seorang pejabat yang diberhentikan secara tidak hormat dalam suasana persidangan yang sedang berlangsung. Terlepas dari benar atau tidaknya berbagai penilaian yang berkembang, peristiwa semacam itu kembali mengingatkan kita bahwa kekuasaan bukan hanya soal kewenangan mengambil keputusan. Kekuasaan juga berbicara tentang cara memperlakukan manusia.
Masyarakat tidak hanya melihat keputusan akhirnya. Masyarakat juga melihat prosesnya. Apakah ada penghormatan? Apakah ada ruang untuk menjelaskan? Apakah kritik masih memiliki tempat? Apakah perbedaan pandangan dianggap sebagai bagian dari dinamika, atau justru dipandang sebagai ancaman? Pertanyaan-pertanyaan itu wajar muncul. Namun sebagai manusia yang tidak memiliki kendali atas seluruh keadaan, barangkali ada satu kata yang perlu kita pelajari kembali: Lepaskan.
Lepaskan bukan berarti menyerah. Bukan berarti kita tidak peduli. Bukan pula berarti kita membenarkan sesuatu yang menurut kita keliru. Lepaskan berarti menyadari bahwa ada hal-hal yang memang berada dalam wilayah ikhtiar kita, tetapi ada pula yang berada di luar kendali kita. Kita boleh mengkritik. Kita boleh bertanya. Kita boleh menyampaikan keberatan. Kita boleh memperjuangkan keadilan melalui cara yang benar.
Tetapi setelah melakukan apa yang menjadi bagian kita, jangan sampai persoalan itu menguasai seluruh kehidupan. Sebab ketika sesuatu yang berada di luar kendali terus-menerus kita genggam, yang terluka sering kali justru diri sendiri. Kita marah sepanjang hari. Kecewa berhari-hari. Sulit tidur. Sulit berkonsentrasi. Bahkan membawa persoalan yang terjadi di luar diri ke dalam rumah, ke sekolah, dan ke dalam hubungan dengan orang-orang yang sebenarnya tidak memiliki kesalahan apa-apa. Maka lepaskan. Bukan karena persoalan itu tidak penting. Tetapi karena ketenangan diri juga penting.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!