VISI | Jumhur Hidayat
Sebagai mantan kepala BNP2TKI, ia pernah mencoba menggeser isu buruh migran dari sekadar remitansi menjadi soal martabat warga negara. Sebagai pemimpin serikat pekerja, ia membawa narasi buruh melampaui isu upah minimum. Dan kini di sektor lingkungan hidup, muncul pertanyaan baru: mungkinkah ia membawa perspektif keadilan ekologis yang bertemu dengan keadilan sosial?
Pertanyaan itu penting.
Sebab isu lingkungan hari ini bukan sekadar soal hutan, karbon, atau emisi. Ia juga soal petani yang tergusur, nelayan yang kehilangan ruang hidup, buruh tambang, masyarakat adat.
Pendek kata: isu rakyat.
Dan itu wilayah yang sejak lama akrab bagi Jumhur.
Ada yang menarik bila membaca biografinya lebih jauh.
Ia lahir dari keluarga mapan, tetapi justru memilih jalan berliku kaum pergerakan. Sahabat lamanya, Fadjroel Rachman, pernah menyebut Jumhur sebagai orang yang “punya privilese tapi memilih membantu orang lain.” Kalimat sederhana, tapi cukup menjelaskan paradoks personalnya.
Bahkan cerita tentang ia membawa jarum dan benang di koper untuk menjahit sendiri bajunya yang robek—detail kecil yang nyaris sepele—sering dipakai kolega untuk menggambarkan watak asketiknya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!