VISI | Jumhur Hidayat
Ia memandang serikat pekerja bukan sekadar alat tawar upah, melainkan ruang pendidikan politik rakyat pekerja.
Namun gerakan tak pernah dibangun oleh satu nama.
Dalam lintasan itu, figur seperti sahabat saya, Almarhum Bambang Eka Purnama atau Bambang Eka, kerap disebut sebagai salah satu arsitek penting konsolidasi Gaspermindo. Ia dikenal di kalangan aktivis buruh sebagai organisator lapangan—tipe pekerja senyap yang membangun mesin gerakan dari bawah. Jika Jumhur sering tampil sebagai wajah ide dan narasi, Bambang Eka - Ketum Gaspermindo 2012-2017 -Â merepresentasikan kerja organisasi yang sunyi tapi menentukan.
Gerakan selalu butuh keduanya: gagasan dan mesin.
Lalu ada nama Ali Tayib, yang oleh banyak kalangan buruh dipandang sebagai penghubung antara tradisi serikat klasik dan gagasan baru perburuhan pasca-Reformasi. Ali datang dari jalur praksis, bukan panggung. Tapi justru dari figur-figur seperti itu, organisasi bertahan.
Dalam sejarah gerakan pekerja Indonesia, tokoh-tokoh semacam ini kerap hilang dari catatan besar, padahal mereka penyangga utamanya.
Itulah paradoks gerakan.
Nama besar biasanya milik yang tampak. Sementara yang menopang sering terlupakan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!