VISI | Jumhur Hidayat
Oleh Aep S. Abdullah
ADA tokoh-tokoh yang lahir dari kekuasaan. Ada pula yang justru dibentuk oleh benturan dengan kekuasaan. Mohammad Jumhur Hidayat tampaknya tumbuh dari kategori kedua. Namanya kembali menonjol setelah duduk sebagai Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup pada April 2026. Namun membaca Jumhur semata sebagai pejabat kabinet jelas terlalu sempit. Ia lebih menyerupai simpul panjang antara aktivisme, gerakan buruh, dan ide tentang kedaulatan rakyat yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan.
Jejak itu tidak dimulai di istana, melainkan di jalanan.
Pada akhir 1980-an, ketika kampus masih menjadi ruang oposisi yang berbahaya, Jumhur muda—mahasiswa Teknik Fisika ITB—masuk dalam gelombang aktivisme yang menolak penggusuran, membela petani, dan menggugat watak represif negara. Peristiwa 5 Agustus 1989 menjadikannya bukan hanya aktivis, tetapi tahanan politik. Penjara Sukamiskin bukan akhir, justru semacam sekolah ideologis.
Banyak aktivis 1998 setelah reformasi masuk partai dan larut dalam kompromi. Jumhur mengambil jalan agak berbeda: tetap berada di orbit gerakan rakyat, terutama buruh.
Di titik itu, nama Gaspermindo—Gabungan Serikat Pekerja Merdeka Indonesia—menjadi penting dibaca.
Gaspermindo lahir pada 1998, pada saat Indonesia meledak oleh krisis ekonomi dan runtuhnya Orde Baru. Ketika banyak organisasi buruh masih sibuk melepaskan diri dari bayang-bayang serikat tunggal negara, Gaspermindo tampil membawa semangat yang lebih radikal: buruh bukan sekadar objek perlindungan, melainkan subjek perubahan sosial.
Di sinilah peran Jumhur tak hanya organisatoris, tapi ideologis.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!