VISI | Amnesia Pemimpin
Oleh: Drajat
- Guru
- Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- APKS PGRI Prov. Jabar
INDONESIA adalah negeri yang luar biasa hebat. Bukan hanya karena bentangan alamnya yang memesona, dari Sabang hingga Merauke. Bukan pula semata karena kekayaan laut, hutan, gunung, dan tanahnya yang subur. Yang paling indah dari negeri ini sesungguhnya adalah manusianya. Masyarakat Indonesia dikenal ramah. Murah senyum. Mudah memaafkan. Gemar bergotong royong. Di tengah berbagai perbedaan suku, agama, bahasa, dan budaya, mereka masih mampu hidup berdampingan. Itulah kekuatan terbesar bangsa ini.
Namun, di balik keindahan itu, ada sebuah pertanyaan yang mengusik. Mengapa masyarakat yang begitu baik hati sering kali harus menelan kekecewaan yang sama berulang kali? Mengapa janji-janji yang pernah diucapkan dengan penuh keyakinan saat masa kampanye, setelah kekuasaan diraih, sering terasa menghilang begitu saja? Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan seseorang. Pertanyaan ini adalah ajakan untuk bercermin. Sebab sejarah hanya akan menjadi pelajaran apabila kita bersedia mengingatnya.
Bung Karno pernah mengingatkan bangsa ini dengan kalimat yang sangat terkenal: "JASMERAH Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah." Kalimat itu bukan sekadar slogan. Ia adalah peringatan agar bangsa ini tidak mengulang kesalahan yang sama. Sejarah bukan sekadar kumpulan tanggal dan peristiwa. Sejarah adalah cermin. Ia menunjukkan apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki. Ketika kita melupakan sejarah, kita berisiko mengulangi kekeliruan yang sama. Dan ketika janji-janji masa lalu dilupakan, kepercayaan masyarakat perlahan ikut memudar.
Menjelang sebuah pemilihan, suasana sering terasa hangat. Calon pemimpin hadir di tengah masyarakat. Mereka menyapa. Mendengarkan keluhan. Menawarkan harapan. Mengucapkan berbagai komitmen yang terdengar indah. Semua itu adalah bagian yang wajar dari proses demokrasi. Namun ujian sesungguhnya justru dimulai setelah amanah diberikan. Saat itulah masyarakat berharap setiap ucapan perlahan berubah menjadi tindakan. Tidak semua harapan tentu dapat diwujudkan sekaligus. Kondisi berubah, tantangan muncul, dan keterbatasan nyata ada. Tetapi masyarakat biasanya dapat menerima penjelasan yang jujur. Yang sulit diterima adalah ketika janji seolah terlupakan tanpa penjelasan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!