VISI | Amnesia Pemimpin
Amnesia yang Bukan Penyakit Medis
Dalam dunia kedokteran, amnesia adalah gangguan ingatan. Seseorang dapat lupa terhadap peristiwa tertentu karena sebab medis. Namun dalam kehidupan publik, ada bentuk "amnesia" lain yang bersifat metaforis. Yaitu ketika seseorang mudah mengingat janji sebelum memperoleh amanah, tetapi sulit mengingatnya setelah amanah berada di tangan. Tentu ini bukan diagnosis medis. Ini adalah cermin moral. Masyarakat berharap para pemimpin terus mengingat alasan mengapa mereka dipercaya. Sebab jabatan pada hakikatnya bukan hadiah. Ia adalah titipan. Dan setiap titipan selalu mengandung pertanggungjawaban.
Sebagai seorang guru, penulis sering bertanya kepada peserta didik, "Apa arti sebuah janji?" Sebagian menjawab, "Janji harus ditepati." Jawaban sederhana itu justru mengandung kebijaksanaan yang besar.
Anak-anak memahami bahwa kepercayaan dibangun dari kemampuan menepati kata-kata. Mengapa ketika dewasa prinsip sederhana ini terasa jauh lebih sulit? Barangkali karena kekuasaan membawa godaan. Karena pujian dapat membuat seseorang lupa pada kritik. Karena lingkungan yang hanya mengatakan "semuanya baik-baik saja" dapat menjauhkan seseorang dari kenyataan. Di sinilah pentingnya keberanian mendengar suara yang berbeda. Kritik yang disampaikan dengan niat baik bukan musuh. Ia adalah pengingat.
Di sekolah, guru tidak hanya mengajarkan ilmu. Guru juga melatih ingatan moral. Anak-anak diajarkan bahwa menyontek itu tidak baik. Berbohong merusak kepercayaan. Mengambil yang bukan haknya adalah kesalahan. Nilai-nilai itu sederhana, tetapi menjadi fondasi kehidupan bersama. Bayangkan jika nilai yang diajarkan di ruang kelas terus dipelihara hingga seseorang menjadi pemimpin. Tentu masyarakat akan menikmati buah dari kepemimpinan yang berintegritas. Karena itu, pendidikan bukan sekadar mencetak orang pintar. Pendidikan membentuk nurani.
Lalu bagaimana agar "amnesia kepemimpinan" tidak terus berulang? Pertama, jadikan sumpah jabatan bukan sekadar seremoni. Setiap amanah yang diucapkan di hadapan masyarakat dan di bawah nilai-nilai agama hendaknya dipahami sebagai komitmen moral yang terus diingat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!