VISI | Amnesia Pemimpin

Desi Rossilawati
Sabtu, 11 Juli 2026 | 08:11 WIB
Bagikan
VISI | Amnesia Pemimpin

Oleh: Drajat

 

INDONESIA adalah negeri yang luar biasa hebat. Bukan hanya karena bentangan alamnya yang memesona, dari Sabang hingga Merauke. Bukan pula semata karena kekayaan laut, hutan, gunung, dan tanahnya yang subur. Yang paling indah dari negeri ini sesungguhnya adalah manusianya. Masyarakat Indonesia dikenal ramah. Murah senyum. Mudah memaafkan. Gemar bergotong royong. Di tengah berbagai perbedaan suku, agama, bahasa, dan budaya, mereka masih mampu hidup berdampingan. Itulah kekuatan terbesar bangsa ini.

Namun, di balik keindahan itu, ada sebuah pertanyaan yang mengusik. Mengapa masyarakat yang begitu baik hati sering kali harus menelan kekecewaan yang sama berulang kali? Mengapa janji-janji yang pernah diucapkan dengan penuh keyakinan saat masa kampanye, setelah kekuasaan diraih, sering terasa menghilang begitu saja? Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan seseorang. Pertanyaan ini adalah ajakan untuk bercermin. Sebab sejarah hanya akan menjadi pelajaran apabila kita bersedia mengingatnya.

Bung Karno pernah mengingatkan bangsa ini dengan kalimat yang sangat terkenal: "JASMERAH Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah." Kalimat itu bukan sekadar slogan. Ia adalah peringatan agar bangsa ini tidak mengulang kesalahan yang sama. Sejarah bukan sekadar kumpulan tanggal dan peristiwa. Sejarah adalah cermin. Ia menunjukkan apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki. Ketika kita melupakan sejarah, kita berisiko mengulangi kekeliruan yang sama. Dan ketika janji-janji masa lalu dilupakan, kepercayaan masyarakat perlahan ikut memudar.

Menjelang sebuah pemilihan, suasana sering terasa hangat. Calon pemimpin hadir di tengah masyarakat. Mereka menyapa. Mendengarkan keluhan. Menawarkan harapan. Mengucapkan berbagai komitmen yang terdengar indah. Semua itu adalah bagian yang wajar dari proses demokrasi. Namun ujian sesungguhnya justru dimulai setelah amanah diberikan. Saat itulah masyarakat berharap setiap ucapan perlahan berubah menjadi tindakan. Tidak semua harapan tentu dapat diwujudkan sekaligus. Kondisi berubah, tantangan muncul, dan keterbatasan nyata ada. Tetapi masyarakat biasanya dapat menerima penjelasan yang jujur. Yang sulit diterima adalah ketika janji seolah terlupakan tanpa penjelasan.

Amnesia yang Bukan Penyakit Medis

Dalam dunia kedokteran, amnesia adalah gangguan ingatan. Seseorang dapat lupa terhadap peristiwa tertentu karena sebab medis. Namun dalam kehidupan publik, ada bentuk "amnesia" lain yang bersifat metaforis. Yaitu ketika seseorang mudah mengingat janji sebelum memperoleh amanah, tetapi sulit mengingatnya setelah amanah berada di tangan. Tentu ini bukan diagnosis medis. Ini adalah cermin moral. Masyarakat berharap para pemimpin terus mengingat alasan mengapa mereka dipercaya. Sebab jabatan pada hakikatnya bukan hadiah. Ia adalah titipan. Dan setiap titipan selalu mengandung pertanggungjawaban.

Sebagai seorang guru, penulis sering bertanya kepada peserta didik, "Apa arti sebuah janji?" Sebagian menjawab, "Janji harus ditepati." Jawaban sederhana itu justru mengandung kebijaksanaan yang besar.

Anak-anak memahami bahwa kepercayaan dibangun dari kemampuan menepati kata-kata. Mengapa ketika dewasa prinsip sederhana ini terasa jauh lebih sulit? Barangkali karena kekuasaan membawa godaan. Karena pujian dapat membuat seseorang lupa pada kritik. Karena lingkungan yang hanya mengatakan "semuanya baik-baik saja" dapat menjauhkan seseorang dari kenyataan. Di sinilah pentingnya keberanian mendengar suara yang berbeda. Kritik yang disampaikan dengan niat baik bukan musuh. Ia adalah pengingat.

Di sekolah, guru tidak hanya mengajarkan ilmu. Guru juga melatih ingatan moral. Anak-anak diajarkan bahwa menyontek itu tidak baik. Berbohong merusak kepercayaan. Mengambil yang bukan haknya adalah kesalahan. Nilai-nilai itu sederhana, tetapi menjadi fondasi kehidupan bersama. Bayangkan jika nilai yang diajarkan di ruang kelas terus dipelihara hingga seseorang menjadi pemimpin. Tentu masyarakat akan menikmati buah dari kepemimpinan yang berintegritas. Karena itu, pendidikan bukan sekadar mencetak orang pintar. Pendidikan membentuk nurani.

Lalu bagaimana agar "amnesia kepemimpinan" tidak terus berulang? Pertama, jadikan sumpah jabatan bukan sekadar seremoni. Setiap amanah yang diucapkan di hadapan masyarakat dan di bawah nilai-nilai agama hendaknya dipahami sebagai komitmen moral yang terus diingat.

Kedua, bangun budaya evaluasi yang jujur. Seorang pemimpin memerlukan tim yang berani menyampaikan kenyataan, bukan hanya kabar yang menyenangkan.

Ketiga, biasakan kembali kepada masyarakat. Mendengar langsung suara warga sering kali menjadi pengingat paling kuat tentang tujuan awal sebuah kepemimpinan.

Keempat, perkuat pendidikan karakter sejak dini. Anak-anak perlu melihat bahwa integritas bukan hanya diajarkan di buku, tetapi juga dicontohkan oleh orang-orang dewasa.

Guru sebagai Penjaga Ingatan Bangsa

Mengapa penulis tetap optimistis? Karena setiap hari masih ada guru yang mengingatkan murid-muridnya tentang arti kejujuran. Masih ada orang tua yang mengajarkan anaknya menepati janji. Masih ada masyarakat yang percaya bahwa kebaikan tidak pernah sia-sia.

Guru mungkin tidak memegang kekuasaan besar. Tetapi guru memegang sesuatu yang jauh lebih penting: masa depan. Di ruang kelas, guru sedang menanam benih-benih integritas yang kelak tumbuh menjadi pemimpin, ilmuwan, pengusaha, petani, tenaga kesehatan, aparat, dan warga negara yang bertanggung jawab.

Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak pernah melakukan kesalahan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau belajar dari kesalahannya. Itulah makna sejarah. Itulah makna "JASMERAH". Jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Dan jangan pula melupakan janji yang pernah diucapkan. Karena setiap janji adalah utang moral. Setiap amanah adalah titipan. Setiap jabatan memiliki batas waktu. Tetapi nama baik dan integritas akan dikenang jauh lebih lama daripada masa jabatan itu sendiri. Sebagai guru, penulis tetap percaya bahwa harapan bangsa ini belum padam. Selama masih ada anak-anak yang belajar berkata jujur. Selama masih ada orang tua yang mendidik dengan kasih sayang. Selama masih ada guru yang menanamkan nilai-nilai kebaikan. Dan selama para pemimpin bersedia terus mengingat bahwa kekuasaan bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk melayani.

Negeri ini tidak membutuhkan pemimpin yang hafal semua pidato. Negeri ini membutuhkan pemimpin yang tidak lupa pada janjinya. Karena pemimpin yang mengingat amanah akan menjaga kepercayaan. Dan kepercayaan itulah yang menjadi fondasi kokohnya sebuah bangsa.**

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.