VISI | Dialektika Peran Antagonis dalam Pemberantasan Korupsi

ED
Sabtu, 11 Juli 2026 | 12:37 WIB
Bagikan
VISI | Dialektika Peran Antagonis dalam Pemberantasan Korupsi

Oleh Dede Farhan Aulawi

  • Mantan Anggota Kompolnas RI. 
  • Pemerhati Pertahanan dan Keamanan. 

KORUPSI merupakan salah satu persoalan paling kompleks dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia tidak sekadar berkaitan dengan pelanggaran hukum, melainkan juga menyangkut moralitas, budaya organisasi, tata kelola pemerintahan, hingga kualitas demokrasi. Karena sifatnya yang sistemik, pemberantasan korupsi tidak pernah berlangsung dalam ruang hampa. Di dalamnya terdapat berbagai kepentingan yang saling bertarung, berbagai aktor yang memainkan peran berbeda, bahkan sering kali muncul sosok-sosok yang dipersepsikan sebagai antagonis.

Dalam narasi publik, antagonis sering dipahami sebagai pihak yang menghambat, menolak, atau bahkan merusak upaya pemberantasan korupsi. Namun dalam perspektif dialektika, keberadaan pihak yang berseberangan tidak selalu hanya menghasilkan kemunduran. Pertentangan justru dapat menjadi mekanisme yang menguji ketangguhan institusi, memperbaiki regulasi, memperkuat transparansi, sekaligus mengoreksi kelemahan strategi pemberantasan korupsi. Dengan demikian, peran antagonis perlu dipahami secara lebih kritis, bukan semata-mata sebagai tokoh "jahat", melainkan sebagai bagian dari dinamika sosial-politik yang membentuk arah reformasi antikorupsi.

Dalam tradisi filsafat, dialektika memandang perkembangan lahir melalui proses pertentangan antara gagasan, kepentingan, maupun kekuatan sosial. Konflik bukan selalu sesuatu yang harus dihindari, melainkan dapat menjadi sumber pembelajaran dan perubahan.

Pemberantasan korupsi juga mengalami proses demikian. Di satu sisi terdapat kekuatan yang menginginkan tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel. Di sisi lain terdapat kelompok yang mempertahankan status quo karena memperoleh keuntungan dari praktik-praktik koruptif atau menolak perubahan dengan berbagai alasan. Interaksi kedua kekuatan tersebut membentuk dinamika yang terus berkembang. Peran antagonis tidak selalu diwujudkan oleh individu tertentu. Dalam praktiknya, antagonisme dapat muncul dalam berbagai bentuk, antara lain :

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.