VISI | Jumhur Hidayat
Gaspermindo menarik karena lahir bukan dari patron negara atau proyek donor internasional, tetapi dari kultur gerakan. Ia dibentuk di masa ketika kata “merdeka” bagi buruh bukan slogan romantik, tetapi agenda material.
Dan Jumhur menjadi salah satu wajah dari agenda itu.
Karena itu ketika kemudian ia masuk negara—dari Kepala BNP2TKI, Ketua KSPSI, hingga menteri—pertanyaan menarik selalu sama: apakah aktivis berubah ketika masuk kekuasaan, atau justru mencoba membawa bahasa gerakan ke dalam negara?
Pada Jumhur, jawabannya tidak pernah hitam-putih.
Sebagian mengkritiknya terlalu dekat dengan kekuasaan.
Sebagian melihatnya justru sebagai sedikit tokoh gerakan yang mampu menembus birokrasi tanpa sepenuhnya tercerabut dari basis sosial.
Keduanya mungkin benar.
Tetapi justru di situlah kompleksitasnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!