VISI | Adem
Barangkali kita membutuhkan sedikit jeda. Jeda dari berita yang membuat dada sesak. Jeda dari pertengkaran di media sosial. Jeda dari saling menyalahkan. Jeda dari kegaduhan. Bukan untuk melarikan diri. Tetapi untuk menata kembali hati. Sebab hati yang terlalu penuh kemarahan akan sulit melihat jalan keluar. Mari kita lepaskan apa yang memang harus dilepaskan. Kita ikhlaskan apa yang memang harus diikhlaskan. Kita maafkan apa yang bisa dimaafkan. Kita perjuangkan apa yang masih bisa diperjuangkan. Dan untuk perkara yang benar-benar berada di luar kuasa kita, kita serahkan kepada Tuhan. Biarkan Tuhan bekerja dengan cara-Nya. Sebab terkadang, manusia terlalu sibuk memikirkan bagaimana keadaan harus berubah, sementara Tuhan sedang menyiapkan jalan yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan.
Penulis masih ingin percaya kepada negeri ini. Penulis masih ingin melihat Indonesia menjadi rumah yang nyaman bagi semua anak bangsa. Negeri yang pemimpinnya tidak alergi terhadap kritik. Negeri yang rakyatnya tidak takut berkata benar. Negeri yang hukum tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Negeri yang kekayaan alamnya benar-benar dirasakan rakyat. Negeri yang guru dihargai bukan sekadar dengan slogan. Negeri yang pendidikan tidak hanya mengejar angka, tetapi membangun manusia. Negeri yang anak-anaknya tumbuh tanpa kehilangan harapan. Negeri yang berbeda pilihan politiknya tetap bisa duduk bersama sebagai saudara. Negeri yang tidak sibuk mempertontonkan siapa yang paling berkuasa, tetapi sibuk memastikan siapa yang paling membutuhkan mendapatkan perhatian. Bukankah itu Indonesia yang kita impikan?
Maka hari ini penulis tidak ingin terlalu banyak berteriak. Penulis hanya ingin berkata: ADEM. Mari kita tenang. Bukan karena semuanya sudah baik. Tetapi karena kita tidak ingin kehilangan kewarasan. Mari kita lepaskan kebencian. Mari kita ikhlaskan sebagian kekecewaan. Mari kita tetap kritis, tetapi dengan hati yang jernih. Mari kita tetap bersuara, tetapi tanpa kehilangan adab. Mari kita tetap berjuang, tetapi tidak merasa menjadi Tuhan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!