VISI | Adem
Sederhana. Tetapi justru kesederhanaan itulah yang sering hilang ketika kekuasaan, kepentingan, dan popularitas bercampur menjadi satu. Kita membutuhkan keberanian untuk mengatakan: “Kalau salah, katakan salah.” Bukan untuk mempermalukan. Bukan untuk menjatuhkan. Tetapi agar kesalahan tidak menjadi kebiasaan. Sebab seorang pemimpin yang baik bukan pemimpin yang selalu mendapatkan tepuk tangan. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berani mendengar suara yang tidak menyenangkan. Bahkan mungkin, sesekali ia membutuhkan orang di sekelilingnya yang berani berkata: “Pak, ini kurang tepat.” “Pak, kebijakan ini perlu diperbaiki.” “Ini belum berhasil.” “Ini menyusahkan rakyat.” Kalimat-kalimat seperti itu mungkin tidak nyaman. Tetapi justru bisa menyelamatkan.
Dan ketika alam mulai berbicara? Banjir. Longsor. Gempa. Kebakaran hutan. Kerusakan lingkungan. Berbagai peristiwa yang seharusnya membuat manusia melakukan introspeksi. Tentu kita tidak boleh gegabah mengatakan bahwa setiap bencana merupakan hukuman langsung atas perilaku manusia. Ada faktor alam, ada faktor tata ruang, ada faktor perubahan iklim, ada faktor teknis, dan ada pula faktor perilaku manusia.
Tetapi bukankah setiap bencana seharusnya menjadi alarm untuk berbenah? Jangan setiap persoalan buru-buru disebut ulah “oknum”. Kalau terlalu banyak “oknum”, mungkin sudah waktunya kita bertanya: Jangan-jangan persoalannya bukan lagi sekadar oknum, tetapi sistem yang memberi ruang kepada kesalahan untuk berulang? Kalimat “itu ulah oknum” tidak boleh menjadi tempat bersembunyi dari tanggung jawab. Jika satu orang melakukan kesalahan, kita periksa orangnya. Jika kesalahan yang sama terjadi berkali-kali, kita periksa sistemnya. Jika terus berulang, kita periksa kepemimpinannya. Sebab tanggung jawab tidak boleh berhenti pada kambing hitam.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!