VISI | Adem
Lalu, di tengah kebisingan itu, penulis tiba pada satu kata sederhana: Adem. Bukan berarti menyerah. Bukan berarti tidak peduli. Bukan pula berarti membiarkan ketidakadilan berjalan tanpa suara. Adem mungkin justru berarti berhenti sejenak agar kita tidak kehilangan akal sehat.
Sebagai seorang guru, penulis sering berhadapan dengan anak-anak yang sedang marah. Kadang karena temannya, kadang karena orang tuanya, kadang karena nilai yang tidak sesuai harapan. Ketika emosi sedang tinggi, anak sulit menerima nasihat. Maka penulis tidak buru-buru menyuruhnya berpikir. Penulis mengajaknya tenang. “Tarik napas dulu.” “Duduk.” “Tidak apa-apa. Kita bicarakan pelan-pelan.”
Penulis belajar satu hal sederhana: orang yang sedang dikuasai emosi sering kali tidak membutuhkan ceramah panjang. Ia membutuhkan ruang untuk menjadi tenang. Barangkali bangsa ini juga sedang membutuhkan itu. Kita membutuhkan adem. Bukan karena persoalan sudah selesai, tetapi karena kita perlu melihat persoalan dengan kepala yang lebih dingin.
Ada sesuatu yang semakin membuat penulis prihatin. Ketika sesuatu yang jelas-jelas keliru disampaikan oleh seorang pemimpin, masih ada orang yang bertepuk tangan. Aplaus menggema. Tepuk tangan membahana. Padahal substansinya belum tentu layak dirayakan. Penulis bertanya dalam hati, apakah tepuk tangan itu benar-benar lahir dari keyakinan, atau karena ketakutan untuk berbeda? Lebih menyedihkan lagi ketika bawahan berlomba menunjukkan loyalitas dengan membenarkan apa pun yang dikatakan atasannya. Salah tetap dibela. Keliru tetap dipuji. Kritik dianggap pembangkangan. Jika budaya seperti ini terus dibiarkan, kita tidak sedang membangun kepemimpinan. Kita sedang membangun budaya pembenaran. Dan budaya pembenaran jauh lebih berbahaya daripada satu kesalahan. Kesalahan masih mungkin diperbaiki. Tetapi ketika kesalahan mulai dianggap benar hanya karena dilakukan oleh orang yang berkuasa, masyarakat perlahan kehilangan kompas moralnya. Di situlah persoalannya menjadi jauh lebih serius.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!