Tiket PSGC vs Sumsel United Mulai Dijual, Ini Harganya 16 Sep 2026 Punya Lahan Terbatas? Ini 5 Tanaman Buah yang Bisa Ditanam di Pot 16 Sep 2026 Marc Klok Apresiasi Bobotoh yang Terbang Jauh ke Seoul 16 Sep 2026 PT Virgo Tanggung Biaya Pemulangan Jenazah 16 Sep 2026 Rokhmat Ardiyan Minta RKAB Batubara Tak Ganggu Pasokan Listrik 16 Sep 2026 Pramono Minta Danantara Bantu Perpanjang LRT, Begini Respons Prabowo 16 Sep 2026 Pelatihan Literasi Digital dan Jurnalistik: Teguh Purwayadi Soroti Darurat Judol dan Hoaks 16 Sep 2026 Ida Nurlaela Minta Pemerintah Antisipasi Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi 16 Sep 2026 FC Seoul vs Persib Disiarkan di TV Mana? Ini Jadwalnya 16 Sep 2026 Rycko Menoza Dorong Percepatan Perbaikan Sekolah Rusak Akibat Gempa NTT 16 Sep 2026 Tiket PSGC vs Sumsel United Mulai Dijual, Ini Harganya 16 Sep 2026 Punya Lahan Terbatas? Ini 5 Tanaman Buah yang Bisa Ditanam di Pot 16 Sep 2026 Marc Klok Apresiasi Bobotoh yang Terbang Jauh ke Seoul 16 Sep 2026 PT Virgo Tanggung Biaya Pemulangan Jenazah 16 Sep 2026 Rokhmat Ardiyan Minta RKAB Batubara Tak Ganggu Pasokan Listrik 16 Sep 2026 Pramono Minta Danantara Bantu Perpanjang LRT, Begini Respons Prabowo 16 Sep 2026 Pelatihan Literasi Digital dan Jurnalistik: Teguh Purwayadi Soroti Darurat Judol dan Hoaks 16 Sep 2026 Ida Nurlaela Minta Pemerintah Antisipasi Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi 16 Sep 2026 FC Seoul vs Persib Disiarkan di TV Mana? Ini Jadwalnya 16 Sep 2026 Rycko Menoza Dorong Percepatan Perbaikan Sekolah Rusak Akibat Gempa NTT 16 Sep 2026

VISI | Adem

Desi Rossilawati
Rabu, 9 September 2026 | 21:16 WIB
Bagikan
VISI | Adem

Lalu, di tengah kebisingan itu, penulis tiba pada satu kata sederhana: Adem. Bukan berarti menyerah. Bukan berarti tidak peduli. Bukan pula berarti membiarkan ketidakadilan berjalan tanpa suara. Adem mungkin justru berarti berhenti sejenak agar kita tidak kehilangan akal sehat

Sebagai seorang guru, penulis sering berhadapan dengan anak-anak yang sedang marah. Kadang karena temannya, kadang karena orang tuanya, kadang karena nilai yang tidak sesuai harapan. Ketika emosi sedang tinggi, anak sulit menerima nasihat. Maka penulis tidak buru-buru menyuruhnya berpikir. Penulis mengajaknya tenang. “Tarik napas dulu.” “Duduk.” “Tidak apa-apa. Kita bicarakan pelan-pelan.” 

Penulis belajar satu hal sederhana: orang yang sedang dikuasai emosi sering kali tidak membutuhkan ceramah panjang. Ia membutuhkan ruang untuk menjadi tenang. Barangkali bangsa ini juga sedang membutuhkan itu. Kita membutuhkan adem. Bukan karena persoalan sudah selesai, tetapi karena kita perlu melihat persoalan dengan kepala yang lebih dingin

Ada sesuatu yang semakin membuat penulis prihatin. Ketika sesuatu yang jelas-jelas keliru disampaikan oleh seorang pemimpin, masih ada orang yang bertepuk tangan. Aplaus menggema. Tepuk tangan membahana. Padahal substansinya belum tentu layak dirayakan. Penulis bertanya dalam hati, apakah tepuk tangan itu benar-benar lahir dari keyakinan, atau karena ketakutan untuk berbeda? Lebih menyedihkan lagi ketika bawahan berlomba menunjukkan loyalitas dengan membenarkan apa pun yang dikatakan atasannya. Salah tetap dibela. Keliru tetap dipuji. Kritik dianggap pembangkangan. Jika budaya seperti ini terus dibiarkan, kita tidak sedang membangun kepemimpinan. Kita sedang membangun budaya pembenaran. Dan budaya pembenaran jauh lebih berbahaya daripada satu kesalahan. Kesalahan masih mungkin diperbaiki. Tetapi ketika kesalahan mulai dianggap benar hanya karena dilakukan oleh orang yang berkuasa, masyarakat perlahan kehilangan kompas moralnya. Di situlah persoalannya menjadi jauh lebih serius. 

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.