VISI | Adem
Penulis tidak ingin menjadi bagian dari masyarakat yang apatis. Tetapi saya juga tidak ingin menghabiskan seluruh energi untuk marah. Ada saatnya kita harus mengatakan: Cukup. Bukan cukup untuk peduli. Tetapi cukup untuk membiarkan kegaduhan menguasai pikiran. Cukup untuk berdebat tanpa akhir. Cukup untuk saling mencaci. Cukup untuk menyebarkan kebencian. Cukup untuk memperbesar persoalan yang tidak bisa kita kendalikan.
Mari kita adem. Tarik napas. Lepaskan. Ikhlaskan. Bukan berarti membenarkan. Bukan berarti melupakan. Tetapi menyadari bahwa ada perkara yang memang berada di luar jangkauan tangan kita. Ada hal yang bisa kita perjuangkan. Ada yang bisa kita kritik. Ada yang bisa kita ubah. Tetapi ada pula yang akhirnya harus kita serahkan kepada Tuhan.
Mungkin inilah yang sering terlupakan manusia. Kita merasa seolah-olah seluruh masa depan negeri berada di tangan kita. Padahal tidak. Kita berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan. Kita merencanakan, tetapi Tuhan yang membukakan jalan. Kita mengingatkan, tetapi Tuhan yang membolak-balikkan hati manusia. Kita bekerja, tetapi Tuhan yang menentukan hasil akhirnya. Maka setelah berusaha semampunya, barangkali ada saat ketika kita perlu berkata: “Ya Allah, kami sudah lelah melihat semua ini. Kami sudah berusaha dengan cara yang kami mampu. Jika kami tidak mampu membalikkan keadaan, maka balikkanlah keadaan ini dengan kuasa-Mu.” Bukan doa orang yang menyerah. Melainkan doa orang yang sadar bahwa manusia memiliki batas.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!