VISI | Adem
Oleh: Drajat
• Guru
• Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
• Wasekjen Komnasdik
• Master Hipnoterapis
ENTAH sampai kapan negeri ini akan benar-benar adem. Hari-hari berjalan, tetapi berita seperti tak pernah memberi kesempatan kepada kita untuk menarik napas panjang. Ada musibah, ada bencana, ada persoalan ekonomi, ada kegaduhan politik, ada pernyataan pejabat yang membuat dahi berkerut, ada kebijakan yang sulit dipahami rakyat kecil. Belum selesai satu persoalan, muncul persoalan lain.
Kita seperti hidup dalam sebuah ruang yang terlalu bising. Suara bersahutan. Semua orang berbicara. Semua orang merasa paling benar. Media sosial menjadi tempat orang meluapkan kemarahan. Para pendukung saling membela. Para pengkritik saling menyerang. Yang berbeda pandangan dianggap musuh. Yang bertanya dianggap mengganggu. Yang mengingatkan kadang justru disingkirkan.
Lalu, di tengah kebisingan itu, penulis tiba pada satu kata sederhana: Adem. Bukan berarti menyerah. Bukan berarti tidak peduli. Bukan pula berarti membiarkan ketidakadilan berjalan tanpa suara. Adem mungkin justru berarti berhenti sejenak agar kita tidak kehilangan akal sehat.
Sebagai seorang guru, penulis sering berhadapan dengan anak-anak yang sedang marah. Kadang karena temannya, kadang karena orang tuanya, kadang karena nilai yang tidak sesuai harapan. Ketika emosi sedang tinggi, anak sulit menerima nasihat. Maka penulis tidak buru-buru menyuruhnya berpikir. Penulis mengajaknya tenang. “Tarik napas dulu.” “Duduk.” “Tidak apa-apa. Kita bicarakan pelan-pelan.”
Penulis belajar satu hal sederhana: orang yang sedang dikuasai emosi sering kali tidak membutuhkan ceramah panjang. Ia membutuhkan ruang untuk menjadi tenang. Barangkali bangsa ini juga sedang membutuhkan itu. Kita membutuhkan adem. Bukan karena persoalan sudah selesai, tetapi karena kita perlu melihat persoalan dengan kepala yang lebih dingin.
Ada sesuatu yang semakin membuat penulis prihatin. Ketika sesuatu yang jelas-jelas keliru disampaikan oleh seorang pemimpin, masih ada orang yang bertepuk tangan. Aplaus menggema. Tepuk tangan membahana. Padahal substansinya belum tentu layak dirayakan. Penulis bertanya dalam hati, apakah tepuk tangan itu benar-benar lahir dari keyakinan, atau karena ketakutan untuk berbeda? Lebih menyedihkan lagi ketika bawahan berlomba menunjukkan loyalitas dengan membenarkan apa pun yang dikatakan atasannya. Salah tetap dibela. Keliru tetap dipuji. Kritik dianggap pembangkangan. Jika budaya seperti ini terus dibiarkan, kita tidak sedang membangun kepemimpinan. Kita sedang membangun budaya pembenaran. Dan budaya pembenaran jauh lebih berbahaya daripada satu kesalahan. Kesalahan masih mungkin diperbaiki. Tetapi ketika kesalahan mulai dianggap benar hanya karena dilakukan oleh orang yang berkuasa, masyarakat perlahan kehilangan kompas moralnya. Di situlah persoalannya menjadi jauh lebih serius.
Rakyat kecil sebenarnya tidak meminta terlalu banyak. Mereka hanya ingin hidup tenang. Pedagang ingin dagangannya laku. Petani ingin hasil panennya dihargai. Nelayan ingin melaut tanpa dihantui biaya yang semakin tinggi. Guru ingin mengajar dengan tenang. Orang tua ingin anaknya mendapatkan pendidikan yang baik. Pekerja ingin memperoleh penghasilan yang layak. Anak-anak ingin tumbuh dalam negeri yang memberi mereka masa depan.
Sesederhana itu. Mereka tidak membutuhkan terlalu banyak jargon. Mereka membutuhkan kenyataan. Karena rakyat hidup bukan dari pidato. Rakyat hidup dari harga yang terjangkau, pekerjaan yang tersedia, pelayanan publik yang baik, pendidikan yang bermutu, kesehatan yang dapat diakses, hukum yang adil, dan pemimpin yang mau mendengarkan. Maka ketika kehidupan terasa berat, sementara dari atas terus terdengar kabar bahwa semuanya baik-baik saja, rakyat tentu bertanya: “Benarkah baik-baik saja?” Pertanyaan itu bukan kebencian. Itu kegelisahan. Dan kegelisahan rakyat seharusnya didengar, bukan dimatikan.
Penulis teringat kepada peserta didik yang pernah bertanya kepada penulis tentang kejujuran. “Pak, kalau orang besar salah tetapi semua orang mengatakan benar, apakah itu tetap salah?” Pertanyaan anak kecil kadang lebih tajam daripada debat para orang dewasa. Penulis menjawab: “Yang menentukan benar atau salah bukan siapa yang mengatakan. Yang menentukan adalah kebenarannya.”
Sederhana. Tetapi justru kesederhanaan itulah yang sering hilang ketika kekuasaan, kepentingan, dan popularitas bercampur menjadi satu. Kita membutuhkan keberanian untuk mengatakan: “Kalau salah, katakan salah.” Bukan untuk mempermalukan. Bukan untuk menjatuhkan. Tetapi agar kesalahan tidak menjadi kebiasaan. Sebab seorang pemimpin yang baik bukan pemimpin yang selalu mendapatkan tepuk tangan. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berani mendengar suara yang tidak menyenangkan. Bahkan mungkin, sesekali ia membutuhkan orang di sekelilingnya yang berani berkata: “Pak, ini kurang tepat.” “Pak, kebijakan ini perlu diperbaiki.” “Ini belum berhasil.” “Ini menyusahkan rakyat.” Kalimat-kalimat seperti itu mungkin tidak nyaman. Tetapi justru bisa menyelamatkan.
Dan ketika alam mulai berbicara? Banjir. Longsor. Gempa. Kebakaran hutan. Kerusakan lingkungan. Berbagai peristiwa yang seharusnya membuat manusia melakukan introspeksi. Tentu kita tidak boleh gegabah mengatakan bahwa setiap bencana merupakan hukuman langsung atas perilaku manusia. Ada faktor alam, ada faktor tata ruang, ada faktor perubahan iklim, ada faktor teknis, dan ada pula faktor perilaku manusia.
Tetapi bukankah setiap bencana seharusnya menjadi alarm untuk berbenah? Jangan setiap persoalan buru-buru disebut ulah “oknum”. Kalau terlalu banyak “oknum”, mungkin sudah waktunya kita bertanya: Jangan-jangan persoalannya bukan lagi sekadar oknum, tetapi sistem yang memberi ruang kepada kesalahan untuk berulang? Kalimat “itu ulah oknum” tidak boleh menjadi tempat bersembunyi dari tanggung jawab. Jika satu orang melakukan kesalahan, kita periksa orangnya. Jika kesalahan yang sama terjadi berkali-kali, kita periksa sistemnya. Jika terus berulang, kita periksa kepemimpinannya. Sebab tanggung jawab tidak boleh berhenti pada kambing hitam.
Penulis tidak ingin menjadi bagian dari masyarakat yang apatis. Tetapi saya juga tidak ingin menghabiskan seluruh energi untuk marah. Ada saatnya kita harus mengatakan: Cukup. Bukan cukup untuk peduli. Tetapi cukup untuk membiarkan kegaduhan menguasai pikiran. Cukup untuk berdebat tanpa akhir. Cukup untuk saling mencaci. Cukup untuk menyebarkan kebencian. Cukup untuk memperbesar persoalan yang tidak bisa kita kendalikan.
Mari kita adem. Tarik napas. Lepaskan. Ikhlaskan. Bukan berarti membenarkan. Bukan berarti melupakan. Tetapi menyadari bahwa ada perkara yang memang berada di luar jangkauan tangan kita. Ada hal yang bisa kita perjuangkan. Ada yang bisa kita kritik. Ada yang bisa kita ubah. Tetapi ada pula yang akhirnya harus kita serahkan kepada Tuhan.
Mungkin inilah yang sering terlupakan manusia. Kita merasa seolah-olah seluruh masa depan negeri berada di tangan kita. Padahal tidak. Kita berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan. Kita merencanakan, tetapi Tuhan yang membukakan jalan. Kita mengingatkan, tetapi Tuhan yang membolak-balikkan hati manusia. Kita bekerja, tetapi Tuhan yang menentukan hasil akhirnya. Maka setelah berusaha semampunya, barangkali ada saat ketika kita perlu berkata: “Ya Allah, kami sudah lelah melihat semua ini. Kami sudah berusaha dengan cara yang kami mampu. Jika kami tidak mampu membalikkan keadaan, maka balikkanlah keadaan ini dengan kuasa-Mu.” Bukan doa orang yang menyerah. Melainkan doa orang yang sadar bahwa manusia memiliki batas.
Adem bukan berarti pasif. Seorang guru tetap mengajar. Seorang dokter tetap melayani. Petani tetap menanam. Pedagang tetap berusaha. Orang tua tetap mendidik anak. Penulis tetap menulis. Wartawan tetap memberitakan kebenaran. Masyarakat tetap mengawasi. Dan pemimpin tetap harus mempertanggungjawabkan amanahnya. Kita tidak boleh menjadikan “ikhlas” sebagai alasan untuk berhenti memperjuangkan kebaikan. Ikhlas itu urusan hati. Perjuangan adalah urusan tindakan. Keduanya dapat berjalan bersama. Kita boleh kecewa tanpa menjadi pembenci. Kita boleh mengkritik tanpa menjadi penghujat. Kita boleh marah terhadap ketidakadilan tanpa kehilangan kemanusiaan. Kita boleh berbeda pilihan tanpa kehilangan persaudaraan. Itulah makna adem yang sesungguhnya.
Sebagai guru, penulis selalu percaya bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari sesuatu yang kecil. Kita tidak mungkin mengubah seluruh negeri seorang diri. Tetapi kita dapat mengubah satu kelas. Dari satu kelas, mungkin lahir satu anak yang jujur. Dari satu anak yang jujur, lahir keluarga yang baik. Dari keluarga yang baik, lahir masyarakat yang sehat. Dan dari masyarakat yang sehat, suatu hari lahir pemimpin yang memiliki integritas. Maka jangan meremehkan pekerjaan seorang guru. Ketika seorang guru mengajarkan kejujuran, sesungguhnya ia sedang menanam benih untuk masa depan bangsa. Ketika seorang guru mengajarkan peserta didik untuk berani berkata benar, sesungguhnya ia sedang menyiapkan generasi yang kelak tidak mudah memberikan tepuk tangan kepada kesalahan. Ketika guru mengajarkan anak untuk berpikir kritis, sesungguhnya ia sedang membangun masyarakat yang tidak mudah dibohongi. Dan ketika guru mengajarkan anak untuk tetap santun meskipun berbeda, sesungguhnya ia sedang membangun Indonesia yang lebih adem.
Barangkali kita membutuhkan sedikit jeda. Jeda dari berita yang membuat dada sesak. Jeda dari pertengkaran di media sosial. Jeda dari saling menyalahkan. Jeda dari kegaduhan. Bukan untuk melarikan diri. Tetapi untuk menata kembali hati. Sebab hati yang terlalu penuh kemarahan akan sulit melihat jalan keluar. Mari kita lepaskan apa yang memang harus dilepaskan. Kita ikhlaskan apa yang memang harus diikhlaskan. Kita maafkan apa yang bisa dimaafkan. Kita perjuangkan apa yang masih bisa diperjuangkan. Dan untuk perkara yang benar-benar berada di luar kuasa kita, kita serahkan kepada Tuhan. Biarkan Tuhan bekerja dengan cara-Nya. Sebab terkadang, manusia terlalu sibuk memikirkan bagaimana keadaan harus berubah, sementara Tuhan sedang menyiapkan jalan yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan.
Penulis masih ingin percaya kepada negeri ini. Penulis masih ingin melihat Indonesia menjadi rumah yang nyaman bagi semua anak bangsa. Negeri yang pemimpinnya tidak alergi terhadap kritik. Negeri yang rakyatnya tidak takut berkata benar. Negeri yang hukum tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Negeri yang kekayaan alamnya benar-benar dirasakan rakyat. Negeri yang guru dihargai bukan sekadar dengan slogan. Negeri yang pendidikan tidak hanya mengejar angka, tetapi membangun manusia. Negeri yang anak-anaknya tumbuh tanpa kehilangan harapan. Negeri yang berbeda pilihan politiknya tetap bisa duduk bersama sebagai saudara. Negeri yang tidak sibuk mempertontonkan siapa yang paling berkuasa, tetapi sibuk memastikan siapa yang paling membutuhkan mendapatkan perhatian. Bukankah itu Indonesia yang kita impikan?
Maka hari ini penulis tidak ingin terlalu banyak berteriak. Penulis hanya ingin berkata: ADEM. Mari kita tenang. Bukan karena semuanya sudah baik. Tetapi karena kita tidak ingin kehilangan kewarasan. Mari kita lepaskan kebencian. Mari kita ikhlaskan sebagian kekecewaan. Mari kita tetap kritis, tetapi dengan hati yang jernih. Mari kita tetap bersuara, tetapi tanpa kehilangan adab. Mari kita tetap berjuang, tetapi tidak merasa menjadi Tuhan.
Dan setelah semua ikhtiar dilakukan, mari kita berdoa: “Tuhan, jika negeri ini sedang kehilangan arah, tunjukkanlah jalan. Jika para pemimpinnya sedang lupa, ingatkanlah. Jika rakyatnya sedang lelah, kuatkanlah. Jika kami sedang terlalu gaduh, tenangkanlah. Dan jika keadaan memang harus dibalikkan, balikkanlah dengan cara-Mu yang terbaik.”
Tarik napas. Lepaskan. Ikhlaskan. Berbuatlah semampu kita. Lalu biarkan Tuhan menyelesaikan apa yang tidak mampu kita selesaikan. Sebab boleh jadi, ketika kita berhenti gaduh dan mulai memperbaiki diri, di situlah Tuhan sedang menyiapkan saat yang tepat untuk membalikkan keadaan. Dan ketika hari itu tiba, semoga kita masih ada di sana. Menyaksikan negeri ini kembali menjadi rumah yang nyaman. Rumah bagi seluruh anak bangsa. Indonesia yang indah. Indonesia yang adil. Indonesia yang makmur. Indonesia yang sejahtera. Indonesia yang benar-benar… ADEMMMM.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!