Bandung Perketat PKL, Trotoar dan Drainase Tak Boleh Diganggu
Salah satu persoalan yang disoroti adalah perbedaan ukuran saluran ketika aliran air bergerak dari wilayah Kota Bandung menuju wilayah kabupaten.
Saluran yang berada di wilayah Kota Bandung memiliki ukuran relatif besar, tetapi kemudian menyempit ketika memasuki wilayah Kabupaten Bandung. Kondisi tersebut berpotensi menjadi hambatan aliran ketika volume air meningkat akibat hujan deras.
Jika kapasitas saluran tidak seimbang, air dapat tertahan dan menimbulkan genangan di kawasan yang berada di sekitar jalur aliran.
Untuk mengurangi risiko tersebut, Pemkot Bandung mempertimbangkan normalisasi saluran sebagai salah satu langkah jangka pendek. Normalisasi diharapkan dapat membantu mengembalikan kapasitas saluran sekaligus mempercepat aliran dan surutnya genangan ketika hujan terjadi.
Namun, Farhan menilai persoalan tersebut tidak harus selalu menunggu proses birokrasi antardaerah yang panjang.
Ia justru mendorong masyarakat yang tinggal di kawasan perbatasan Kota Bandung dan Kabupaten Bandung untuk membangun gerakan gotong royong.
“Saya minta September ini sudah mulai jalan untuk mengurangi risiko. Ini warga dengan warga. Bukan dinas dengan dinas,” ujarnya.
Menurut Farhan, masyarakat di wilayah yang terdampak memiliki kepentingan yang sama untuk menjaga saluran air. Karena itu, penanganan dapat dimulai dari lingkungan masyarakat dengan dukungan pemerintah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!