VISI | Marwah Ulama
NU tidak boleh menjadi korban budaya politik yang selama ini justru sering dikritiknya.
Memilih dengan Hati, Bukan dengan Kepentingan
Muktamirin memiliki tanggung jawab sejarah.
Pilihan mereka tidak hanya menentukan siapa Ketua Umum PBNU lima tahun ke depan, tetapi juga menentukan wajah NU menuju satu abad kedua.
Karena itu, ukuran utama bukanlah popularitas, bukan kedekatan personal, bukan asal daerah, bukan kekuatan jaringan, dan bukan pula akses kepada kekuasaan.
Yang harus menjadi pertimbangan adalah integritas, kapasitas, akhlak, keberanian moral, komitmen terhadap pesantren, kemampuan menjaga persatuan, dan ketulusan mengabdi kepada umat.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengingatkan bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang memandang kekuasaan sebagai sarana pelayanan, bukan sarana kemuliaan pribadi.
Jika para pemilih mendasarkan pilihan pada ketulusan, maka siapapun yang terpilih akan memperoleh legitimasi moral yang kuat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!