VISI | Marwah Ulama
Sejarah kelahiran NU tahun 1926 mengajarkan bahwa organisasi ini didirikan bukan untuk mengejar jabatan politik atau kedekatan dengan penguasa.
Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri dan para muassis mendirikan NU untuk menjaga agama, melindungi umat, memperkuat pendidikan pesantren, dan membimbing masyarakat melalui akhlak Ahlussunnah wal Jamaah.
Para pendiri NU memahami bahwa kekuasaan bersifat sementara, sedangkan nilai-nilai moral bersifat abadi.
Dalam filsafat politik klasik, Aristoteles menyebut bahwa negara membutuhkan kebajikan (virtue) agar tidak berubah menjadi alat kepentingan segelintir elite. Tanpa moralitas, politik hanya menjadi perebutan keuntungan.
NU selama hampir satu abad bertahan bukan karena kekuatan anggaran, bukan karena kedekatan dengan pemerintah, dan bukan pula karena dukungan oligarki. NU besar karena kepercayaan umat.
Kepercayaan itulah yang harus dijaga.
Karena itu, siapapun yang terpilih nanti harus menyadari bahwa NU tidak boleh menjadi subordinat pemerintah. Sebaliknya, NU harus lebih besar dari pemerintah dalam pengertian moral dan pengaruh sosial.
Pemerintah datang dan pergi melalui siklus politik. Presiden berganti. Menteri berganti. Kepala daerah berganti.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!