VISI | Kritik yang Merdeka
Oleh Aep S. Abdullah
SETIAP tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia kembali mengulang kata yang sama: kemerdekaan. Kata itu dikumandangkan dalam upacara, pidato, doa, dan berbagai seremoni kebangsaan. Namun pertanyaan yang selalu relevan untuk diajukan adalah: apakah kemerdekaan hanya berarti terbebas dari penjajahan fisik, ataukah juga berarti kebebasan untuk menyampaikan kebenaran tanpa rasa takut?
Secara historis, kemerdekaan Indonesia lahir dari keberanian melawan kekuasaan yang menindas. Para pendiri bangsa tidak hanya memperjuangkan pengusiran kolonialisme, tetapi juga memperjuangkan hak rakyat untuk bersuara, berpikir, dan menentukan nasibnya sendiri. Karena itu, kemerdekaan sejatinya bukan hanya peristiwa politik yang terjadi pada 17 Agustus 1945, melainkan sebuah proses terus-menerus untuk memastikan bahwa setiap warga negara memiliki ruang yang aman untuk mengemukakan pendapat.
Di usia Republik Indonesia yang ke-81, cita-cita tersebut masih menghadapi tantangan. Salah satu tantangan terbesar dalam demokrasi modern adalah bagaimana kekuasaan menyikapi kritik. Demokrasi tidak diukur dari banyaknya pujian yang diterima pemerintah, melainkan dari seberapa besar ruang yang diberikan kepada mereka yang berbeda pendapat.
Dalam konteks ini, muncul kegelisahan publik terhadap cara sebagian elite kekuasaan menyikapi kritik. Kritik yang semestinya menjadi bagian normal dalam kehidupan demokrasi sering kali dipersepsikan sebagai serangan, ancaman, atau bentuk permusuhan. Akibatnya, muncul suasana yang membuat sebagian warga, aktivis, akademisi, maupun jurnalis merasa harus berhitung sebelum berbicara.
Padahal, kritik bukanlah musuh kekuasaan.
Filsuf Yunani kuno, Socrates, pernah mengatakan, “Kehidupan yang tidak diperiksa adalah kehidupan yang tidak layak dijalani.” Dalam konteks negara, pemerintahan yang tidak pernah dikritik adalah pemerintahan yang kehilangan kesempatan untuk memperbaiki diri. Kritik adalah cermin. Ia mungkin tidak selalu menyenangkan, tetapi tanpanya seseorang tidak akan pernah mengetahui kekurangan dirinya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!