VISI | Kritik yang Merdeka

ED
Senin, 17 Agustus 2026 | 07:49 WIB
Bagikan
VISI | Kritik yang Merdeka

Jika kritik diperlakukan sebagai bagian dari demokrasi, maka birokrasi akan belajar menghargai perbedaan pendapat.

Namun jika kritik dipandang sebagai ancaman, maka budaya anti-kritik akan menjalar ke seluruh sistem pemerintahan.

Di titik itulah kemerdekaan pers menjadi taruhan.

Pers yang sehat bukanlah pers yang selalu memuji pemerintah. Pers yang sehat adalah pers yang mampu menjalankan fungsi kontrol sosial secara independen. Pers tidak diciptakan untuk menjadi humas kekuasaan. Pers hadir untuk memastikan bahwa kekuasaan tetap berada dalam koridor hukum, etika, dan kepentingan rakyat.

Thomas Jefferson bahkan pernah menyatakan bahwa jika ia harus memilih antara pemerintahan tanpa surat kabar atau surat kabar tanpa pemerintahan, ia akan memilih yang kedua. Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya kebebasan pers dalam menjaga kehidupan demokrasi.

Tentu saja, kritik tidak boleh berubah menjadi fitnah. Kebebasan tidak boleh digunakan untuk menyebarkan kebohongan. Namun negara yang percaya diri tidak akan takut pada kritik yang jujur. Sebaliknya, negara yang kuat justru tumbuh dari keberanian mendengarkan suara-suara yang berbeda.

Kemerdekaan yang sejati bukan hanya ketika rakyat bebas memilih pemimpinnya, tetapi juga ketika rakyat bebas mengingatkan pemimpinnya.

Kemerdekaan yang sejati bukan hanya ketika bendera berkibar di langit Indonesia, tetapi ketika kebenaran dapat disampaikan tanpa rasa takut.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.