VISI | Khadijah binti Khuwailid: Businesswoman Sukses yang Percaya pada Integritas
Sejak kecil, Khadijah tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan dunia perdagangan. Ayahnya sering melibatkan diri dalam transaksi besar, dan melalui pengalaman itu, ia mendapatkan gambaran nyata tentang dinamika perdagangan Quraisy. Sejak remaja, ia terbiasa mendengar pembicaraan tentang modal, kafilah, jalur dagang, hingga strategi menjaga keuntungan. Dengan kata lain, darah pedagang sudah mengalir dalam dirinya.
Ketika ayahnya wafat, Khadijah mewarisi harta yang sangat besar—emas, perak, unta, serta aset dagang lainnya. Namun, harta yang melimpah tersebut tidak membuatnya terjerumus dalam gaya hidup boros seperti banyak orang kaya Quraisy. Ia melihat warisan itu sebagai amanah dan peluang untuk berkembang. Keputusan Khadijah untuk mengembangkan harta warisan melalui perdagangan menunjukkan kematangan visi dan tanggung jawabnya.
Dalam menjalankan bisnisnya, Khadijah tidak menjalankannya sendirian. Ia adalah seorang investor yang menyediakan modal baik berupa uang maupun barang dagangan. Selanjutnya, Khadijah mendelegasikan tugasnya kepada orang yang ia percaya untuk menjual barang-barang tersebut ke luar Mekah. Kemudian setelah bisnisnya berjalan baik, Khadijah akan membagi hasil laba perolehan dan memberi upah kepada pegawainya.
Barang niaga Khadijah mencakup minyak wangi, kain sutera berkualitas tinggi yang ia impor dari Syiria, dan beberapa makanan pokok. Kafilah dagangannya yang berjumlah ribuan onta mengangkut dagangan ke pasar-pasar yang terdapat di Yaman, India dan Persia serta diterima oleh beberapa saudagar kaya di negeri tersebut. Bahkan Khadijah memilki beberapa orang pegawai dari Romawi, Ghassan, Persia, Damaskus, Hirah dan di ibukota Kisra.
Khadijah disebut-sebut memiliki separuh dari keseluruhan kafilah-kafilah dagang yang berasal dari Quraisy. Angka yang fantastis untuk ukuran seorang perempuan di zaman Jahiliyah yang didominasi laki-laki. Keberhasilan Khadijah dalam dunia bisnis menjadikannya sebagai salah satu wanita paling berpengaruh di Makkah sebelum datangnya Islam.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!