VISI | Kediri, Kenapa?
Pandangan serupa disampaikan sejarawan muda Universitas Airlangga, Adrian Perkasa. Menurutnya, banyaknya peninggalan sejarah Kediri yang hilang, rusak, atau belum ditemukan membuat ruang interpretasi masyarakat menjadi sangat luas. Kekosongan data sejarah sering kali diisi oleh cerita, mitos, dan tafsir yang berkembang dari generasi ke generasi. Karena itu, munculnya berbagai legenda politik bukanlah sesuatu yang mengejutkan.
Ironisnya, sejarah justru menunjukkan bahwa Kediri merupakan salah satu pusat kekuasaan paling penting di Jawa. Dari masa Airlangga, Kameswara, hingga Jayabaya, wilayah Daha menjadi jantung politik dan kebudayaan. Pada era Singhasari dan Majapahit pun Kediri tetap memegang posisi strategis. Bahkan menjelang runtuhnya Majapahit, pusat pemerintahan dipindahkan ke Daha. Artinya, secara historis Kediri bukanlah simbol kehancuran kekuasaan, melainkan justru salah satu pusat lahirnya kekuasaan di Nusantara.
Karena itu, ketika muncul spekulasi bahwa Muktamar Nahdlatul Ulama tidak jadi digelar di Lirboyo, Kediri, melainkan di Tambakberas, Jombang, sebagian orang kembali mengaitkannya dengan mitos tersebut. Bahkan muncul dugaan bahwa keputusan itu berkaitan dengan kemungkinan kehadiran Presiden Prabowo Subianto.
Akan tetapi, hingga hari ini tidak ada satu pun pernyataan resmi yang menyebut perubahan lokasi Muktamar NU dipengaruhi oleh mitos "Kutukan Kediri". Penyelenggaraan forum nasional sebesar muktamar lazimnya mempertimbangkan kesiapan infrastruktur, kapasitas lokasi, akses transportasi, keamanan, akomodasi peserta, serta keputusan internal organisasi. Menghubungkannya dengan mitos tetap berada dalam wilayah spekulasi yang belum dapat diverifikasi.
Namun, apakah itu berarti mitos tersebut tidak penting? Belum tentu.
Dalam ilmu politik, persepsi sering kali memiliki daya pengaruh yang hampir sama besarnya dengan fakta. Sebuah mitos yang dipercaya jutaan orang dapat memengaruhi cara publik membaca sebuah peristiwa, meskipun tidak pernah terbukti secara ilmiah. Di Indonesia, politik bukan hanya soal elektabilitas dan konstitusi. Politik juga dibentuk oleh simbol, memori kolektif, dan kebudayaan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!