VISI | Kediri, Kenapa?
Justru karena tidak dapat dibuktikan itulah cerita tersebut berubah menjadi legenda urban. Ia tidak hidup karena fakta, tetapi karena pola yang diyakini masyarakat.
Menariknya, legenda itu sesungguhnya pernah "dipatahkan" oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. SBY tercatat mengunjungi Kediri, termasuk ketika meninjau para pengungsi letusan Gunung Kelud pada 2014. Alih-alih lengser setelah kunjungan tersebut, ia justru menuntaskan masa jabatan konstitusionalnya selama dua periode hingga 2014. Fakta ini menjadi bantahan paling nyata terhadap keyakinan bahwa setiap presiden yang datang ke Kediri pasti kehilangan kekuasaan.
Namun mitos tidak bekerja seperti ilmu pengetahuan. Satu pengecualian sering kali tidak cukup untuk menghapus keyakinan yang telah hidup selama puluhan tahun.
Mitos itu kembali menjadi perbincangan nasional pada 2020 ketika Sekretaris Kabinet saat itu, Pramono Anung, secara terbuka mengungkapkan bahwa Presiden Joko Widodo tidak dijadwalkan berkunjung ke Kediri. Dalam pernyataannya kepada media, Pramono bahkan menyinggung mitos bahwa Presiden yang datang ke Kediri akan bernasib seperti Gus Dur. Pernyataan seorang pejabat negara mengenai mitos lokal itu sontak memancing diskusi luas. Bukan karena masyarakat tiba-tiba mempercayainya, melainkan karena mitos yang selama ini hidup di ruang-ruang informal mendadak memperoleh panggung dalam percakapan politik nasional.
Di sinilah para sejarawan memberikan perspektif yang lebih jernih.
Pengamat sejarah dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Purnawan Basundoro, menilai kepercayaan tersebut memang telah mengakar dalam tradisi masyarakat Jawa. Menurutnya, masyarakat memiliki kebiasaan niteni, yakni mengamati pola dari berbagai kejadian, kemudian menghubungkan peristiwa-peristiwa itu menjadi sebuah keyakinan budaya.
Namun Purnawan juga menegaskan bahwa hingga kini belum ditemukan sumber sejarah yang dapat membuktikan adanya "kutukan" tersebut. Bahkan ia mengaku belum menemukan manuskrip atau catatan sejarah yang secara eksplisit menyatakan Kediri sebagai kota pembawa sial bagi penguasa. Ramalan-ramalan yang sering dikaitkan dengan Prabu Jayabaya pun, menurut kajian sejarah, lebih banyak dipahami sebagai tafsir yang muncul setelah suatu peristiwa terjadi (post factum), bukan sebagai ramalan yang dapat diverifikasi sebelumnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!