VISI | Kediri, Kenapa?
Barangkali "Kutukan Kediri" sesungguhnya bukan berbicara tentang sebuah kota. Ia adalah metafora. Sebuah kritik budaya terhadap kekuasaan. Pesan yang hendak disampaikan masyarakat sebenarnya sederhana: tidak ada kekuasaan yang abadi. Jabatan hanya titipan. Seorang pemimpin yang kehilangan amanah pada akhirnya akan dijatuhkan oleh sejarah, oleh rakyat, atau oleh sistem yang ia bangun sendiri.
Maka, pertanyaan "Kediri, kenapa?" sesungguhnya bukan ditujukan kepada kotanya. Pertanyaan itu justru layak diajukan kepada setiap pemegang kekuasaan. Sudahkah amanah dijalankan? Sudahkah jabatan digunakan untuk melayani rakyat, bukan sekadar mempertahankan kekuasaan?
Sebab, jika sejarah mengajarkan satu hal, itu adalah kenyataan bahwa tidak ada kota yang mampu menjatuhkan seorang presiden. Yang menjatuhkan seorang pemimpin, hampir selalu, adalah politiknya sendiri.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!