VISI | Kediri, Kenapa?
Oleh Aep S. Abdullah
"KALAU seorang presiden datang ke Kediri, tak lama kemudian kekuasaannya berakhir."
Kalimat itu bukan berasal dari buku sejarah ataupun dokumen negara. Ia hidup dari mulut ke mulut, diwariskan dalam obrolan warung kopi, percakapan para sesepuh, hingga menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Jawa Timur. Di Kediri, cerita itu bahkan memiliki nama yang cukup populer: Kutukan Kediri!.
Belum lama ini, ketika Tim 'Gowes Sejarah' VISI.NEWS, seorang staf sebuah hotel di Kota Kediri mengulang kembali cerita tersebut. Menurutnya, Kediri seolah menjadi "kartu mati" bagi kepala negara yang tidak menjalankan amanah dengan baik. Ia tidak mengatakannya sebagai sebuah kepastian, melainkan sebagai cerita yang sudah lama dipercaya masyarakat.
Di situlah letak menariknya. Politik modern seharusnya dibangun di atas konstitusi, hukum, dan kehendak rakyat. Namun dalam praktiknya, politik Indonesia tak pernah benar-benar lepas dari simbol, mitos, dan kebudayaan. Ketika rasionalitas bertemu dengan tradisi, lahirlah narasi-narasi yang terus hidup meski tak pernah bisa dibuktikan secara ilmiah.
Keyakinan masyarakat itu kemudian menemukan "bahan bakarnya" dari beberapa peristiwa politik nasional. Nama-nama Presiden Soekarno, B. J. Habibie, dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kerap disebut sebagai contoh. Ketiganya pernah berkunjung ke Kediri, lalu dalam rentang waktu tertentu tidak lagi menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.
Soekarno kehilangan kekuasaan setelah pergolakan politik pasca-G30S dan terbitnya Supersemar. Habibie mengakhiri masa kepresidenannya setelah pidato pertanggungjawabannya ditolak MPR pada 1999 sehingga tidak melanjutkan pencalonan. Gus Dur dilengserkan melalui Sidang Istimewa MPR pada 2001 di tengah konflik politik yang tajam. Bagi sebagian masyarakat, rangkaian peristiwa itu dianggap terlalu sering untuk sekadar disebut kebetulan.
Padahal, jika ditelaah secara politik, ketiga presiden tersebut lengser karena alasan yang sangat berbeda. Soekarno menghadapi perubahan konfigurasi kekuasaan nasional. Habibie berada dalam masa transisi Reformasi yang penuh tekanan politik. Sementara Gus Dur menghadapi pertarungan politik dengan DPR dan MPR. Tidak ada bukti bahwa kunjungan ke Kediri memiliki hubungan sebab-akibat dengan berakhirnya masa jabatan mereka.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!