VISI | Harapan

Desi Rossilawati
Minggu, 9 Agustus 2026 | 17:30 WIB
Bagikan
VISI | Harapan

Kita sering berbicara tentang Generasi Emas 2045. Namun generasi emas tidak lahir dari slogan. Ia lahir dari pendidikan yang serius. Dari guru yang terus belajar. Dari sekolah yang memiliki visi. Dari kebijakan yang konsisten. Dari orang tua yang terlibat. Dari masyarakat yang peduli. Dan terutama dari pemimpin yang memahami bahwa pendidikan adalah investasi peradaban. Anak-anak harus diberi keyakinan bahwa masa depan masih layak diperjuangkan. Sebab anak yang kehilangan harapan akan sulit membangun masa depan. Sebaliknya, anak yang memiliki harapan akan berani mencoba, berani gagal, berani bangkit, dan berani menciptakan sesuatu.

Sebagai guru sekaligus praktisi hypnoteaching, hipnoterapi, dan NLP, penulis memahami pentingnya sugesti positif dalam membangun keyakinan. Namun sugesti positif bukan berarti mengatakan, "Semua baik-baik saja," ketika kenyataan menunjukkan adanya persoalan. Sugesti positif yang sehat justru berbunyi: "Ada masalah, tetapi kita mampu menghadapinya." "Ada kegagalan, tetapi kita bisa belajar darinya." "Ada kesulitan, tetapi kita tidak boleh menyerah." "Negeri ini memiliki pekerjaan rumah, tetapi kita dapat ikut memperbaikinya."

Itulah harapan. Harapan bukan menutup mata. Harapan adalah keberanian untuk tetap berjalan meskipun kita tahu jalan di depan tidak selalu mudah.

Pendidikan seharusnya menjadi bahan evaluasi bersama, bukan amunisi untuk saling menyalahkan. Jika literasi masih menjadi persoalan, hidupkan budaya membaca. Jika numerasi masih lemah, hadirkan matematika dalam kehidupan nyata. Jika kemampuan berpikir kritis belum kuat, beri ruang kepada peserta didik untuk bertanya dan berdiskusi. Jika guru membutuhkan penguatan kompetensi, berikan pelatihan yang relevan dan berkelanjutan. Jika kepala sekolah diharapkan menjadi pemimpin pembelajaran, berikan ruang kepemimpinan yang memungkinkan mereka berinovasi. Jika kebijakan pendidikan ingin berhasil, dengarkan mereka yang setiap hari berada di ruang kelas. Sebab pendidikan tidak dapat dibangun hanya dari meja birokrasi. Pendidikan harus mendengar suara sekolah.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.