VISI | Khidmah Strategis Muktamar NU
Oleh Aep S. Abdullah
- Pengurus PCNU Kabupaten Bandung
MUKTAMAR ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada Agustus 2026 merupakan momentum yang jauh melampaui agenda memilih Rais Aam dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Muktamar adalah forum tertinggi jam'iyyah untuk melakukan muhasabah organisasi, mengevaluasi arah perjuangan, sekaligus memperbaharui komitmen terhadap cita-cita besar para muassis Nahdlatul Ulama.
Di tengah perubahan sosial, ekonomi, politik, teknologi, dan geopolitik global yang berlangsung sangat cepat, NU dituntut tidak hanya mampu menjaga tradisi, tetapi juga menghadirkan pembaruan yang tetap berpijak pada khittah 1926. Tantangan NU hari ini bukan lagi sekadar mempertahankan jumlah warga Nahdliyin yang sangat besar, melainkan menjaga kualitas kepemimpinan, budaya organisasi, dan kepercayaan publik yang selama lebih dari satu abad menjadi modal sosial paling berharga.
Dalam perspektif psikologi organisasi, organisasi sebesar NU tidak akan mengalami kemunduran karena kekurangan anggota. Ancaman terbesar justru muncul ketika terjadi penurunan kualitas kepemimpinan, melemahnya budaya integritas, dan bergesernya orientasi pengabdian menjadi orientasi kepentingan. Fenomena ini dikenal sebagai mission drift, yaitu ketika sebuah organisasi perlahan menjauh dari tujuan awal yang melahirkannya karena terlalu sibuk mengelola kepentingan internal maupun eksternal.
Para muassis NU tidak mendirikan jam'iyyah untuk mengejar kekuasaan. Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, dan para ulama pendiri lainnya meletakkan NU sebagai wadah khidmah, bukan kendaraan politik personal. Yang mereka wariskan bukan hanya struktur organisasi, tetapi juga etos perjuangan yang dibangun di atas keikhlasan, amanah, tawadhu', istiqamah, dan kecintaan kepada agama sekaligus tanah air.
Karena itu, Muktamar mendatang semestinya tidak hanya menghasilkan pergantian kepemimpinan, tetapi juga melahirkan kesadaran baru bahwa NU memerlukan figur-figur yang telah "selesai" dengan dirinya sendiri.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!