VISI | Khidmah Strategis Muktamar NU
Jika PWNU menunjukkan profesionalisme, PCNU akan mengikutinya.
Jika PCNU menghadirkan pelayanan yang bersih dan akuntabel, maka MWCNU hingga ranting akan mereplikasi budaya tersebut.
Sebaliknya, jika di tingkat pusat muncul budaya saling berebut pengaruh, konflik kepentingan, atau orientasi jabatan, maka pola itu perlahan akan menjadi budaya organisasi hingga ke tingkat paling bawah.
Efek domino kepemimpinan tidak pernah bisa dihindari.
Karena itu, yang dibutuhkan NU bukan sekadar pemimpin populer, tetapi pemimpin yang mampu menciptakan kultur organisasi.
Kultur inilah yang selama ini menjadi kekuatan terbesar NU. Jam'iyyah ini mampu bertahan lebih dari satu abad bukan semata karena memiliki anggota yang banyak, tetapi karena memiliki budaya organisasi yang diwariskan dari pesantren: adab kepada guru, penghormatan kepada ulama, musyawarah, ukhuwah nahdliyah, ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan kesediaan mendahulukan maslahat bersama dibanding kepentingan pribadi.
Namun budaya tersebut harus terus diperkuat dengan tata kelola modern.
Tidak ada pertentangan antara tradisi pesantren dan profesionalisme. Justru profesionalisme merupakan bagian dari ihsan dalam mengelola amanah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!