VISI | Khidmah Strategis Muktamar NU
Istilah "selesai" bukan berarti seseorang berhenti berkarya, melainkan telah mencapai kematangan psikologis sehingga tidak lagi menjadikan jabatan sebagai alat pemuas ego. Dalam teori perkembangan ego Jane Loevinger maupun konsep self-transcendence Abraham Maslow, individu yang matang akan lebih terdorong mengabdi kepada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Ia tidak lagi sibuk mencari pengakuan, melainkan berusaha meninggalkan warisan.
Pemimpin seperti inilah yang dibutuhkan NU.
NU membutuhkan orang-orang yang tidak lagi memiliki ambisi politik berlebihan, tidak menjadikan organisasi sebagai tangga menuju kekuasaan, tidak mengukur keberhasilan dari besarnya fasilitas maupun kedekatan dengan pusat-pusat kekuasaan. Sebab ketika orientasi kepemimpinan bergeser menjadi orientasi jabatan, maka perlahan ruh khidmah akan tergantikan oleh logika kompetisi.
Dalam filsafat Aristoteles, kepemimpinan ideal selalu diarahkan pada bonum commune atau kebaikan bersama. Sementara Al-Farabi menggambarkan pemimpin sebagai sosok yang memiliki keutamaan moral sebelum memiliki kecakapan teknis. Kedua pandangan tersebut sejalan dengan tradisi kepemimpinan Nahdliyin yang selalu menempatkan akhlak di atas kemampuan administratif.
Seorang pengurus PBNU bukan hanya administrator organisasi, melainkan teladan moral bagi jutaan warga Nahdliyin.
Dalam psikologi sosial terdapat teori social learning yang dikembangkan Albert Bandura. Teori tersebut menjelaskan bahwa manusia belajar terutama melalui keteladanan. Apa yang dilakukan pemimpin jauh lebih berpengaruh dibandingkan apa yang diucapkannya.
Prinsip ini sangat relevan bagi NU.
Jika PBNU membangun budaya transparansi, PWNU akan meniru.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!