VISI | Khidmah Strategis Muktamar NU
Kata "menghibahkan" menjadi penting karena orientasinya adalah memberi, bukan mengambil.
Sayangnya, di banyak organisasi masyarakat sering muncul gejala yang oleh psikolog organisasi disebut entitlement mentality, yaitu perasaan bahwa jabatan harus memberikan keuntungan pribadi. Akibatnya organisasi perlahan berubah menjadi ruang distribusi kepentingan.
NU harus menjauhi budaya seperti itu.
Pengurus NU jangan mencari hidup di NU.
Pengurus NU harus menghidupkan NU.
Kalimat sederhana ini sesungguhnya mengandung makna yang sangat dalam. Organisasi akan kehilangan kewibawaannya apabila jabatan dipersepsikan sebagai sumber penghasilan utama. Sebaliknya, organisasi akan semakin dihormati apabila para pengurus datang dengan semangat berkorban, membawa kompetensi, pengalaman, jaringan, bahkan sumber daya yang mereka miliki untuk kemajuan jam'iyyah.
NU juga perlu memberikan ruang yang lebih besar kepada para pensiunan yang memiliki rekam jejak baik. Banyak mantan hakim, jaksa, guru besar, rektor, birokrat, diplomat, direksi BUMN, perwira TNI-Polri, dokter senior, dan tokoh masyarakat yang telah selesai dengan karier profesionalnya. Mereka memiliki pengalaman puluhan tahun yang sangat berharga untuk memperkuat kelembagaan NU.
Dalam teori manajemen pengetahuan, kelompok seperti ini merupakan penjaga institutional memory. Mereka dapat menjadi mentor bagi generasi muda agar regenerasi berlangsung tanpa kehilangan nilai dan pengalaman.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!