VISI | Harapan
Oleh: Drajat
• Guru
• Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
• Wasekjen Komnasdik
• Master Hipnoterapis
• APKS PGRI Prov. Jabar
Anggaplah negeri ini sebuah negeri di dunia lain. Negeri yang setiap hari membuat penduduknya bertanya: hendak dibawa ke mana perjalanan ini?
Pertanyaan itu bukan lahir karena bangsa ini tidak memiliki sumber daya. Bukan pula karena kita kekurangan manusia pintar. Indonesia memiliki kekayaan alam, bonus demografi, anak-anak muda dengan kreativitas luar biasa, serta guru dan kaum intelektual yang terus bekerja di tengah berbagai keterbatasan. Namun ada sesuatu yang belakangan terasa semakin mahal: kepastian arah.
Masyarakat menghadapi berbagai tekanan kehidupan. Harga kebutuhan pokok menjadi perhatian. Lapangan pekerjaan tidak selalu mudah diperoleh. Pemutusan hubungan kerja masih menjadi kekhawatiran. Dunia pendidikan pun terus bergulat dengan berbagai kebijakan, perubahan, dan tuntutan mutu.
Data memang tidak boleh digunakan untuk menakut-nakuti masyarakat. Tetapi data juga tidak boleh disembunyikan hanya agar kita terlihat baik-baik saja. Badan Pusat Statistik mencatat tingkat pengangguran terbuka Indonesia pada Agustus 2025 sebesar 4,85 persen. Angka itu memang bukan gambaran seluruh persoalan ketenagakerjaan, tetapi cukup menjadi pengingat bahwa pekerjaan dan masa depan ekonomi masih menjadi pekerjaan rumah bangsa.
Begitu pula pendidikan. Hasil PISA 2022 menunjukkan capaian siswa Indonesia dalam matematika, membaca, dan sains masih berada di bawah rata-rata OECD. Dalam matematika, hanya sekitar 18 persen siswa Indonesia yang mencapai setidaknya Level 2, dibandingkan rata-rata OECD sebesar 69 persen.
Angka tersebut seharusnya tidak membuat kita menyerah. Sebaliknya, ia harus menjadi alarm. Sebab masalah terbesar bukan ketika hasil kita rendah. Masalah terbesar adalah ketika kita mengetahui hasilnya rendah, tetapi tidak sungguh-sungguh melakukan evaluasi.
Di tengah segala kegaduhan itu, penulis setiap hari berhadapan dengan wajah-wajah yang justru membuat harapan kembali tumbuh. Peserta didik. Mereka datang dengan karakter yang berbeda-beda. Ada yang pendiam, ada yang cerewet. Ada yang cepat memahami pelajaran, ada yang harus mencoba berkali-kali. Ada yang percaya diri, ada yang masih takut mengangkat tangan.
Namun semuanya mempunyai satu kesamaan: mereka adalah masa depan bangsa. Mereka belum selesai dibentuk. Mereka masih bisa belajar dari kesalahan. Mereka masih berani bermimpi. Dan mereka masih percaya bahwa masa depan dapat dibuat lebih baik. Itulah sebabnya guru tidak boleh ikut kehilangan harapan. Ketika berita di luar membuat masyarakat menghela napas, guru harus tetap menghadirkan ketenangan di dalam kelas. Bukan berarti guru menutup mata terhadap kenyataan. Bukan pula guru harus berpura-pura bahwa negeri ini tidak memiliki persoalan. Justru karena guru memahami kenyataan, peserta didik harus diajarkan bagaimana menghadapi kenyataan dengan nalar, karakter, dan harapan.
Ada perbedaan antara menenangkan peserta didik dan membodohinya. Menenangkan berarti membantu mereka melihat persoalan secara jernih. Membodohi berarti menyembunyikan persoalan agar mereka tidak bertanya. Guru tidak boleh memilih yang kedua.
Ketika seorang peserta didik bertanya tentang keadaan negeri, guru harus berani mengatakan bahwa ada persoalan yang harus diperbaiki. Tetapi setelah itu guru perlu memberikan arah: "Kalian tidak harus menjadi bagian dari masalah. Kalian bisa menjadi bagian dari solusi." Kalimat sederhana tersebut penting. Sebab pendidikan bukan tempat untuk melarikan diri dari kenyataan. Pendidikan adalah tempat mempersiapkan manusia agar mampu memperbaiki kenyataan.
Hari ini anak-anak hidup dalam dunia yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Informasi datang tanpa mengetuk pintu. Satu video dapat menyebar dalam hitungan menit. Satu potongan pernyataan dapat dipisahkan dari konteksnya. Satu kabar yang belum tentu benar dapat dipercaya jutaan orang. Maka guru tidak cukup hanya mengajarkan membaca teks. Guru harus mengajarkan membaca zaman. Peserta didik perlu belajar memeriksa sumber informasi, membedakan fakta dan opini, membandingkan berbagai sumber, serta tidak mudah percaya hanya karena sebuah informasi viral. Guru harus menjadi filter, bukan bendungan. Informasi boleh masuk, tetapi harus disaring dengan nalar. Inilah literasi yang sesungguhnya.
Penulis sering mengatakan kepada peserta didik yang dipercaya menjadi Ketua OSIS, ketua kelas, atau KM: "Ketika kalian menjadi pemimpin, tugas pertama kalian bukan menyuruh. Tugas pertama kalian adalah memberikan ketenangan." Mengapa? Karena seorang pemimpin adalah tempat orang lain mencari arah. Ketika ketua kelas panik, teman-temannya ikut panik. Ketika ketua organisasi kehilangan arah, anggotanya ikut kehilangan arah. Ketika pemimpin hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri, kepercayaan anggota perlahan menghilang.
Pepatah mengatakan, "ikan busuk mulai dari kepala." Ungkapan itu tidak harus dipahami secara harfiah. Namun sebagai metafora kepemimpinan, pesannya jelas: kualitas kepemimpinan sangat menentukan kesehatan sebuah organisasi. Karena itu, setiap pemimpin semestinya berani bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah saya memberikan ketenangan? Apakah saya mau mendengar? Apakah saya menerima kritik? Apakah saya memberi ruang kepada orang lain untuk berkembang? Apakah saya memilih berdasarkan kompetensi? Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut sesungguhnya merupakan latihan kepemimpinan yang sangat penting.
Bahaya Budaya Asal Bapak Senang
Sebuah organisasi akan sulit berkembang jika semua orang hanya mengatakan apa yang ingin didengar pemimpinnya. Pimpinan bertanya, "Bagaimana keadaan?"
Semua menjawab, "Baik." Padahal di lapangan ada masalah.
Pimpinan bertanya, "Program berjalan?" Semua menjawab, "Lancar."
Padahal ada persoalan yang tidak tersampaikan. Inilah budaya yang harus dihindari dalam pendidikan maupun kehidupan publik: Asal Bapak Senang. Sebab ketika laporan lebih penting daripada kenyataan, pemimpin kehilangan informasi. Ketika informasi yang diterima tidak utuh, keputusan berpotensi keliru. Dan ketika keputusan keliru terus dipertahankan, persoalan dapat semakin melebar. Pemimpin tidak membutuhkan orang yang selalu mengatakan dirinya benar. Pemimpin membutuhkan orang yang berani berkata: "Pak, kenyataan di lapangan berbeda." Kalimat itu mungkin tidak nyaman. Namun bisa jadi justru itulah bentuk loyalitas yang paling tulus.
Kita sering berbicara tentang Generasi Emas 2045. Namun generasi emas tidak lahir dari slogan. Ia lahir dari pendidikan yang serius. Dari guru yang terus belajar. Dari sekolah yang memiliki visi. Dari kebijakan yang konsisten. Dari orang tua yang terlibat. Dari masyarakat yang peduli. Dan terutama dari pemimpin yang memahami bahwa pendidikan adalah investasi peradaban. Anak-anak harus diberi keyakinan bahwa masa depan masih layak diperjuangkan. Sebab anak yang kehilangan harapan akan sulit membangun masa depan. Sebaliknya, anak yang memiliki harapan akan berani mencoba, berani gagal, berani bangkit, dan berani menciptakan sesuatu.
Sebagai guru sekaligus praktisi hypnoteaching, hipnoterapi, dan NLP, penulis memahami pentingnya sugesti positif dalam membangun keyakinan. Namun sugesti positif bukan berarti mengatakan, "Semua baik-baik saja," ketika kenyataan menunjukkan adanya persoalan. Sugesti positif yang sehat justru berbunyi: "Ada masalah, tetapi kita mampu menghadapinya." "Ada kegagalan, tetapi kita bisa belajar darinya." "Ada kesulitan, tetapi kita tidak boleh menyerah." "Negeri ini memiliki pekerjaan rumah, tetapi kita dapat ikut memperbaikinya."
Itulah harapan. Harapan bukan menutup mata. Harapan adalah keberanian untuk tetap berjalan meskipun kita tahu jalan di depan tidak selalu mudah.
Pendidikan seharusnya menjadi bahan evaluasi bersama, bukan amunisi untuk saling menyalahkan. Jika literasi masih menjadi persoalan, hidupkan budaya membaca. Jika numerasi masih lemah, hadirkan matematika dalam kehidupan nyata. Jika kemampuan berpikir kritis belum kuat, beri ruang kepada peserta didik untuk bertanya dan berdiskusi. Jika guru membutuhkan penguatan kompetensi, berikan pelatihan yang relevan dan berkelanjutan. Jika kepala sekolah diharapkan menjadi pemimpin pembelajaran, berikan ruang kepemimpinan yang memungkinkan mereka berinovasi. Jika kebijakan pendidikan ingin berhasil, dengarkan mereka yang setiap hari berada di ruang kelas. Sebab pendidikan tidak dapat dibangun hanya dari meja birokrasi. Pendidikan harus mendengar suara sekolah.
Masih Ada Cahaya
Setelah lebih dari tiga puluh lima tahun berada di ruang kelas, penulis memiliki alasan untuk tetap optimistis. Penulis melihat anak yang dahulu tidak berani berbicara kini mampu berdiri di depan banyak orang. Melihat anak yang dahulu takut matematika kini mampu menyelesaikan persoalan dengan caranya sendiri. Melihat anak yang dahulu sering gagal kini mampu bangkit. Melihat anak yang dahulu hanya menjadi pengikut kini berani menjadi pemimpin.
Bukankah itu harapan? Harapan tidak selalu datang dalam bentuk kebijakan besar. Kadang ia hadir dalam senyum seorang peserta didik. Dalam tangan yang terangkat. Dalam pertanyaan yang kritis. Dalam keberanian mengatakan, "Pak, menurut saya itu kurang tepat." Dan guru menjawab, "Mari kita cari tahu bersama." Di situlah peradaban sedang dibangun.
Negeri ini mungkin belum sempurna. Masih banyak pekerjaan rumah. Masih ada tantangan ekonomi. Masih ada persoalan ketenagakerjaan. Masih ada pekerjaan besar di dunia pendidikan. Namun bangsa ini belum selesai. Jangan karena melihat banyak masalah, kita berhenti percaya. Jangan karena melihat kegaduhan, kita kehilangan kewarasan. Jangan karena melihat kesalahan orang lain, kita berhenti mendidik anak-anak. Justru di situlah tugas guru semakin penting. Ketika keadaan gelap, cahaya semakin diperlukan. Ketika banyak orang berteriak, diperlukan orang yang tetap mampu berpikir jernih. Ketika banyak orang kehilangan arah, diperlukan pendidik yang menunjukkan jalan. Dan ketika generasi muda bertanya apakah negeri ini masih layak diperjuangkan, guru harus mampu menjawab:
Negeri ini masih layak diperjuangkan. Bukan karena negeri ini sempurna. Tetapi karena di dalamnya masih ada anak-anak yang sedang tumbuh. Masih ada guru yang mengajar. Masih ada orang tua yang berdoa. Masih ada pemuda yang bermimpi. Masih ada manusia baik yang bekerja dalam diam.
Selama semua itu masih ada, harapan belum mati. Tugas kita bukan menunggu negeri ini menjadi baik-baik saja. Tugas kita adalah ikut membuatnya menjadi lebih baik. Sedikit demi sedikit. Sekolah demi sekolah. Kelas demi kelas. Anak demi anak. Karena bisa jadi, Generasi Emas 2045 tidak sedang menunggu di masa depan. Mereka sedang duduk di depan kita hari ini. Dan tugas seorang guru adalah memastikan cahaya di mata mereka tidak pernah padam.**
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!