VISI | Empati Profesional

ED
Sabtu, 8 Agustus 2026 | 06:05 WIB
Bagikan
VISI | Empati Profesional

Oleh Aep S. Abdullah

ADA paradoks yang sulit diterima akal sehat ketika seseorang yang mengabdikan hidupnya untuk menyelamatkan manusia justru memperlihatkan sikap yang melukai martabat manusia. Dokter adalah profesi yang lahir dari sumpah moral sebelum menjadi pekerjaan. Ia bukan sekadar pemegang ilmu kedokteran, melainkan penjaga harapan orang-orang yang sedang berada pada titik paling rapuh dalam hidupnya. Karena itu, ketika muncul komentar yang bernada merendahkan pasien, terlebih kepada seseorang yang kemudian meninggal dunia, publik tidak hanya melihatnya sebagai kesalahan individu. Publik melihatnya sebagai retaknya fondasi etik sebuah profesi.

Kasus dugaan komentar tidak berempati yang menyeret seorang dokter ASN di Kabupaten Malang menjadi pengingat bahwa kecerdasan akademik tidak selalu berjalan beriringan dengan kecerdasan emosional. Pendidikan tinggi mampu membentuk kemampuan berpikir analitis, tetapi tidak otomatis membentuk karakter yang penuh welas asih. Di sinilah letak persoalan yang lebih mendasar: apakah sistem pendidikan profesi telah berhasil membentuk manusia yang utuh, atau hanya menghasilkan tenaga profesional yang sangat kompeten secara teknis namun mengalami kekeringan afektif?

Dalam psikologi, empati merupakan kemampuan memahami sekaligus merasakan keadaan emosional orang lain. Psikolog Daniel Goleman menyebut empati sebagai salah satu komponen utama emotional intelligence (kecerdasan emosional), yakni kemampuan mengenali emosi diri sendiri dan orang lain sehingga mampu membangun hubungan yang sehat. Empati berbeda dengan simpati. Simpati hanya merasa iba, sedangkan empati menempatkan diri pada pengalaman orang lain tanpa kehilangan objektivitas.

Pada profesi kedokteran, empati bukanlah bonus, melainkan kompetensi inti. Berbagai penelitian psikologi kesehatan menunjukkan bahwa dokter yang memiliki empati tinggi mampu meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi, mempercepat proses penyembuhan, menurunkan kecemasan pasien, bahkan mengurangi potensi konflik antara tenaga kesehatan dan keluarga pasien. Dengan kata lain, empati memiliki nilai klinis yang sama pentingnya dengan keterampilan medis.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.