VISI | Empati Profesional

ED
Sabtu, 8 Agustus 2026 | 06:05 WIB
Bagikan
VISI | Empati Profesional

Yang jauh lebih penting adalah melakukan refleksi menyeluruh mengenai budaya organisasi pelayanan kesehatan. Apakah sistem telah cukup memberi ruang bagi pembinaan karakter? Apakah pendidikan kedokteran masih menempatkan empati sebagai kompetensi utama atau justru lebih menekankan capaian akademik? Apakah rumah sakit dan puskesmas telah memiliki mekanisme pendampingan psikologis bagi tenaga kesehatan yang mengalami burnout?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut menentukan kualitas pelayanan kesehatan di masa depan.

Pada akhirnya, masyarakat tidak menuntut dokter menjadi manusia yang sempurna. Dokter tetap manusia yang bisa lelah, kecewa, bahkan melakukan kesalahan. Namun masyarakat berharap satu hal yang tidak boleh hilang: empati.

Karena ketika empati hilang, ilmu yang tinggi kehilangan arah. Ketika belas kasih memudar, profesi yang mulia kehilangan makna. Dan ketika pasien tidak lagi dipandang sebagai manusia yang layak dihormati, sesungguhnya yang sedang sakit bukan hanya sistem kesehatan, melainkan juga nurani kemanusiaan kita bersama.***

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.