VISI | Empati Profesional

ED
Sabtu, 8 Agustus 2026 | 06:05 WIB
Bagikan
VISI | Empati Profesional

Namun psikologi juga mengenal fenomena compassion fatigue atau kelelahan empatik. Seseorang yang setiap hari berhadapan dengan penderitaan dapat mengalami penurunan sensitivitas emosional akibat tekanan pekerjaan yang terus-menerus. Jika tidak dikelola dengan baik, kelelahan tersebut berkembang menjadi depersonalisasi, yakni kecenderungan melihat pasien bukan lagi sebagai manusia yang memiliki cerita, melainkan sekadar nomor antrean, diagnosis, atau beban pekerjaan.

Fenomena tersebut banyak dibahas dalam konsep burnout yang diperkenalkan Christina Maslach. Burnout bukan sekadar lelah bekerja, tetapi kondisi kelelahan emosional yang menyebabkan seseorang kehilangan makna terhadap pekerjaannya. Salah satu gejalanya adalah munculnya sikap sinis terhadap orang yang seharusnya dilayani.

Namun burnout tidak dapat dijadikan pembenaran atas perilaku yang merendahkan pasien. Ada batas tegas antara memahami penyebab psikologis dan membenarkan tindakan. Memahami bukan berarti memaklumi.

Kasus yang menjadi perhatian publik ini justru menunjukkan sesuatu yang lebih mengkhawatirkan daripada sekadar burnout. Komentar yang bernada mengejek di ruang publik memperlihatkan hilangnya moral imagination, istilah yang digunakan filsuf Martha Nussbaum untuk menggambarkan kemampuan membayangkan penderitaan orang lain sebagai pengalaman yang mungkin juga dapat menimpa diri sendiri.

Dalam filsafat Immanuel Kant, manusia harus diperlakukan sebagai tujuan, bukan sebagai alat. Kalimat ini sangat relevan dalam dunia kesehatan. Pasien bukan objek administrasi, bukan angka klaim BPJS, bukan beban pelayanan, dan bukan pula sasaran candaan di media sosial. Ia adalah manusia yang memiliki martabat intrinsik.

Ironisnya, masyarakat sering kali menaruh ekspektasi yang sangat tinggi terhadap profesi dokter. Ekspektasi itu lahir bukan semata karena dokter memiliki ilmu, melainkan karena profesi tersebut dibangun di atas fondasi moral untuk menolong sesama. Ketika perilaku yang muncul justru bertolak belakang, rasa kecewa publik menjadi berlipat ganda.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.