VISI | Harapan
Penulis sering mengatakan kepada peserta didik yang dipercaya menjadi Ketua OSIS, ketua kelas, atau KM: "Ketika kalian menjadi pemimpin, tugas pertama kalian bukan menyuruh. Tugas pertama kalian adalah memberikan ketenangan." Mengapa? Karena seorang pemimpin adalah tempat orang lain mencari arah. Ketika ketua kelas panik, teman-temannya ikut panik. Ketika ketua organisasi kehilangan arah, anggotanya ikut kehilangan arah. Ketika pemimpin hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri, kepercayaan anggota perlahan menghilang.
Pepatah mengatakan, "ikan busuk mulai dari kepala." Ungkapan itu tidak harus dipahami secara harfiah. Namun sebagai metafora kepemimpinan, pesannya jelas: kualitas kepemimpinan sangat menentukan kesehatan sebuah organisasi. Karena itu, setiap pemimpin semestinya berani bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah saya memberikan ketenangan? Apakah saya mau mendengar? Apakah saya menerima kritik? Apakah saya memberi ruang kepada orang lain untuk berkembang? Apakah saya memilih berdasarkan kompetensi? Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut sesungguhnya merupakan latihan kepemimpinan yang sangat penting.
Bahaya Budaya Asal Bapak Senang
Sebuah organisasi akan sulit berkembang jika semua orang hanya mengatakan apa yang ingin didengar pemimpinnya. Pimpinan bertanya, "Bagaimana keadaan?"
Semua menjawab, "Baik." Padahal di lapangan ada masalah.
Pimpinan bertanya, "Program berjalan?" Semua menjawab, "Lancar."
Padahal ada persoalan yang tidak tersampaikan. Inilah budaya yang harus dihindari dalam pendidikan maupun kehidupan publik: Asal Bapak Senang. Sebab ketika laporan lebih penting daripada kenyataan, pemimpin kehilangan informasi. Ketika informasi yang diterima tidak utuh, keputusan berpotensi keliru. Dan ketika keputusan keliru terus dipertahankan, persoalan dapat semakin melebar. Pemimpin tidak membutuhkan orang yang selalu mengatakan dirinya benar. Pemimpin membutuhkan orang yang berani berkata: "Pak, kenyataan di lapangan berbeda." Kalimat itu mungkin tidak nyaman. Namun bisa jadi justru itulah bentuk loyalitas yang paling tulus.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!