VISI | Harapan

Desi Rossilawati
Minggu, 9 Agustus 2026 | 17:30 WIB
Bagikan
VISI | Harapan

Di tengah segala kegaduhan itu, penulis setiap hari berhadapan dengan wajah-wajah yang justru membuat harapan kembali tumbuh. Peserta didik. Mereka datang dengan karakter yang berbeda-beda. Ada yang pendiam, ada yang cerewet. Ada yang cepat memahami pelajaran, ada yang harus mencoba berkali-kali. Ada yang percaya diri, ada yang masih takut mengangkat tangan.

Namun semuanya mempunyai satu kesamaan: mereka adalah masa depan bangsa. Mereka belum selesai dibentuk. Mereka masih bisa belajar dari kesalahan. Mereka masih berani bermimpi. Dan mereka masih percaya bahwa masa depan dapat dibuat lebih baik. Itulah sebabnya guru tidak boleh ikut kehilangan harapan. Ketika berita di luar membuat masyarakat menghela napas, guru harus tetap menghadirkan ketenangan di dalam kelas. Bukan berarti guru menutup mata terhadap kenyataan. Bukan pula guru harus berpura-pura bahwa negeri ini tidak memiliki persoalan. Justru karena guru memahami kenyataan, peserta didik harus diajarkan bagaimana menghadapi kenyataan dengan nalar, karakter, dan harapan.

Ada perbedaan antara menenangkan peserta didik dan membodohinya. Menenangkan berarti membantu mereka melihat persoalan secara jernih. Membodohi berarti menyembunyikan persoalan agar mereka tidak bertanya. Guru tidak boleh memilih yang kedua. 

Ketika seorang peserta didik bertanya tentang keadaan negeri, guru harus berani mengatakan bahwa ada persoalan yang harus diperbaiki. Tetapi setelah itu guru perlu memberikan arah: "Kalian tidak harus menjadi bagian dari masalah. Kalian bisa menjadi bagian dari solusi." Kalimat sederhana tersebut penting. Sebab pendidikan bukan tempat untuk melarikan diri dari kenyataan. Pendidikan adalah tempat mempersiapkan manusia agar mampu memperbaiki kenyataan.

Hari ini anak-anak hidup dalam dunia yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Informasi datang tanpa mengetuk pintu. Satu video dapat menyebar dalam hitungan menit. Satu potongan pernyataan dapat dipisahkan dari konteksnya. Satu kabar yang belum tentu benar dapat dipercaya jutaan orang. Maka guru tidak cukup hanya mengajarkan membaca teks. Guru harus mengajarkan membaca zaman. Peserta didik perlu belajar memeriksa sumber informasi, membedakan fakta dan opini, membandingkan berbagai sumber, serta tidak mudah percaya hanya karena sebuah informasi viral. Guru harus menjadi filter, bukan bendungan. Informasi boleh masuk, tetapi harus disaring dengan nalar. Inilah literasi yang sesungguhnya.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.