VISI | Ampun Guru!
Oleh: Drajat
- Guru
- Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
- Wasekjen Komnasdik
- Master Hipnoterapis
- APKS PGRI Prov. Jabar
“Ampun, Guru!”
Kalimat itu belakangan sering terdengar di ruang kelas. Awalnya penulis tersenyum. Bukan karena merasa menjadi guru yang harus diampuni, melainkan karena penulis memahami bahasa peserta didik. Ketika mereka mengatakan, “Ampun, Guru!”, biasanya ada sesuatu yang sedang mereka hadapi: soal matematika yang dianggap terlalu menantang, konsep yang belum mereka pahami, atau persoalan yang membutuhkan penjelasan lebih mendalam.
Di situlah alarm seorang guru berbunyi. Penulis harus segera membaca keadaan. Bukan memarahi. Bukan pula mengatakan, “Makanya belajar!” Justru penulis harus mencari ramuan yang tepat agar mereka kembali tenang. Sebab penulis semakin memahami, anak yang tenang lebih mudah belajar. Ketika suasana kelas nyaman, mereka berani bertanya. Mereka berani salah. Mereka berani menyampaikan pendapat. Bahkan tidak jarang mereka berani mengkritik cara penulis menjelaskan. Dan bagi penulis, itulah kelas yang hidup.
Sudah puluhan tahun penulis menikmati profesi sebagai guru, khususnya guru matematika. Penulis tahu persis bahwa matematika sering dianggap sebagai “hantu” oleh peserta didik. Begitu guru menulis angka dan simbol di papan tulis, sebagian wajah langsung berubah. Ada yang tegang. Ada yang diam. Ada yang mulai melihat jam. Bahkan ada yang berharap bel segera berbunyi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!