VISI | Ampun Guru!
Besok pagi penulis akan kembali masuk kelas. Mungkin akan ada anak yang belum mengerjakan tugas. Mungkin ada yang masih bingung dengan matematika. Mungkin ada yang kembali mengatakan: “Ampun, Guru!” Dan penulis mungkin akan kembali tersenyum. “Baik. Kita coba lagi.” Karena begitulah guru. Ketika peserta didik belum memahami, guru menjelaskan lagi. Ketika mereka jatuh, guru membantu bangkit. Ketika mereka kehilangan semangat, guru meniupkan harapan. Dan ketika negeri sedang kehilangan arah, guru tetap menunjukkan jalan.
Kepada negara penulis ingin menitipkan satu pesan: Jangan biarkan guru terus-menerus mengucapkan “Ampun, Guru!” kepada keadaan. Guru sudah terlalu lama mengajarkan anak-anak tentang keberanian, kejujuran, ketekunan, dan tanggung jawab. Kini saatnya negara menunjukkan hal yang sama kepada guru. Berani memperbaiki kebijakan. Jujur melihat kenyataan. Tekun membangun pendidikan. Bertanggung jawab terhadap mereka yang setiap hari menjaga masa depan bangsa. Sebab pendidikan tidak akan pernah maju hanya dengan mengganti kurikulum, membuat program, atau menambah slogan.
Pendidikan akan maju ketika manusianya dimuliakan. Dan salah satu manusia terpenting di dalamnya adalah guru. Maka, Bapak dan Ibu pengambil kebijakan, dengarkanlah suara kecil dari ruang kelas. Bukan suara kemarahan. Bukan suara kebencian. Hanya sebuah alarm sederhana: “Ampun, Guru!”
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!