VISI | Ampun Guru!

Desi Rossilawati
Jumat, 28 Agustus 2026 | 10:45 WIB
Bagikan
VISI | Ampun Guru!

Pengalaman panjang mengajarkan penulis bahwa sering kali persoalannya bukan matematika. Persoalannya adalah rasa takut. Anak yang takut salah akan memilih diam. Anak yang takut dimarahi tidak akan bertanya. Anak yang merasa dirinya bodoh akan berhenti mencoba. Maka tugas guru bukan hanya mengajarkan rumus. Guru harus terlebih dahulu menciptakan rasa aman. Ketika rasa aman tumbuh, peserta didik mulai berani. Mereka bertanya. Berargumentasi. Berdiskusi. Bahkan sesekali membuat gurunya kewalahan. Dan justru di situlah penulis bahagia. 

Ketika seorang peserta didik mengatakan, “Ampun Guru!”, penulis justru mendengarkannya sebagai sebuah pesan: “Pak, kami membutuhkan penjelasan lagi.” Maka penulis harus turun satu tingkat. Jika mereka belum memahami, penulis mencari contoh lain. Jika masih sulit, penulis menggunakan cerita. Jika masih belum masuk, penulis mencoba pendekatan berbeda. Sebab guru bukan sedang mengejar siapa yang paling cepat memahami. Guru sedang memastikan sebanyak mungkin anak menemukan jalan menuju pemahaman. Begitulah seharusnya pendidikan bekerja

Belakangan penulis berpikir, ternyata kalimat “Ampun Guru!” tidak hanya pantas terdengar di ruang kelas. Ada “Ampun Guru!” yang jauh lebih besar. Ia datang dari kehidupan guru itu sendiri. 

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.