VISI | Ampun Guru!
“Ampun, Guru!” Ketika guru dijanjikan kesejahteraan, tetapi kenyataan belum sesuai harapan. “Ampun, Guru!” Ketika seorang guru telah mengabdi bertahun-tahun, tetapi masih harus berjuang memenuhikebutuhan keluarga. “Ampun, Guru!” Ketika kualifikasi pendidikan yang dimiliki tidak selalu berbanding lurus dengan kesempatan mengajar yang tersedia. “Ampun, Guru!” Ketika guru diminta menghasilkan peserta didik berkualitas, tetapi dukungan terhadap guru belum selalu sepadan dengan tuntutan yang dibebankan. Kalimat itu bukan keluhan kosong. Ia adalah alarm. Alarm agar negara kembali melihat siapa yang setiap hari berada di garis depan pendidikan.
Guru memang bekerja. Tetapi guru bukan sekadar pekerja. Ia mendidik manusia. Setiap pagi guru datang membawa lebih dari sekadar perangkat pembelajaran. Ia membawa kesabaran. Membawa harapan. Membawa pengalaman. Membawa energi. Dan sering kali membawa persoalan pribadi yang tidak pernah diketahui peserta didiknya.
Namun begitu berdiri di depan kelas, semua itu harus ditinggalkan sejenak. Senyum harus tetap muncul. Suara harus tetap terdengar. Materi harus tetap disampaikan. Anak-anak harus tetap diyakinkan bahwa masa depan mereka masih terbuka. Inilah pekerjaan guru. Tidak selalu terlihat. Tetapi dampaknya bisa berlangsung sepanjang kehidupan seseorang.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!