VISI | Ampun Guru!
Kepada Pemerintah, Dengarkanlah
Penulis menulis bukan karena membenci pemerintah. Justru karena mencintai pendidikan. Penulis mengkritik bukan karena ingin menjatuhkan. Justru karena berharap ada perbaikan. Penulis menyampaikan kegelisahan bukan karena tidak bersyukur. Justru karena terlalu mencintai profesi ini. Maka izinkan guru berkata: Jangan lupakan kami.
Jangan hanya datang ketika membutuhkan data. Jangan hanya mengingat guru ketika membutuhkan slogan. Jangan hanya menjadikan guru sebagai ujung tombak ketika ada target yang harus dicapai. Ingatlah guru ketika menyusun anggaran. Ingatlah guru ketika membuat kebijakan. Ingatlah guru ketika merancang program. Dan yang paling penting, ajak guru berbicara sebelum memutuskan sesuatu tentang guru. Sebab guru yang berada di kelas setiap hari memiliki pengetahuan lapangan yang tidak selalu ditemukan di meja birokrasi.
Penulis membayangkan suatu hari nanti. Bukan lagi guru yang berkata, "Ampun, negara..." Bukan lagi guru yang merasa harus terus meminta perhatian. Tetapi peserta didik, orang tua, masyarakat, bahkan negara berkata: “Terima kasih, Guru.”
Terima kasih karena telah bertahan. Terima kasih karena tetap mengajar. Terima kasih karena tidak lelah membimbing. Terima kasih karena tetap mengajarkan kejujuran. Terima kasih karena tetap menyalakan mimpi. Terima kasih karena ketika keadaan negeri tidak menentu, guru masih berkata kepada anak-anak: "Belajarlah. Suatu hari kalian yang akan memperbaiki negeri ini." Itulah penghargaan yang sesungguhnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!