Pusat Kebudayaan Tionghoa Bandung Dibidik Jadi Magnet Wisata
Penataan Bertahap Mulai Didorong
Pemerintah Provinsi Jawa Barat memastikan akan berkoordinasi dengan Pemkot Bandung untuk mendorong penataan kawasan secara bertahap. Salah satu tahapan penataan tersebut mulai diarahkan pada 2027.
Koordinasi antarpemerintah menjadi penting karena pengembangan kawasan tidak hanya menyangkut satu gedung. Infrastruktur jalan, akses transportasi, trotoar, penerangan, lingkungan permukiman, hingga pemberdayaan masyarakat membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
Dengan penataan yang terintegrasi, pusat kebudayaan diharapkan tidak menjadi enklave budaya yang terpisah dari kehidupan masyarakat, melainkan menjadi bagian dari kawasan perkotaan yang hidup.
Dedi berharap keberadaan pusat kebudayaan tersebut pada akhirnya memberikan manfaat yang lebih luas bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia di Jawa Barat dan Indonesia.
“Semoga tempat ini menjadi tempat bagi peningkatan kualitas sumber daya masyarakat Jawa Barat dan Indonesia,” tuturnya.
Bagi Kota Bandung, pengembangan Pusat Kebudayaan Tionghoa menjadi destinasi wisata juga dapat memperkaya pilihan wisata budaya di tengah kota. Bandung selama ini dikenal dengan beragam daya tarik kuliner, kreativitas, sejarah, dan budaya. Kehadiran ruang budaya baru dapat memperluas spektrum tersebut.
Tantangannya adalah memastikan konsep besar tersebut benar-benar terhubung dengan masyarakat sekitar. Jika penataan kawasan, pemberdayaan warga, agenda budaya, dan akses wisata dapat berjalan bersama, pusat kebudayaan tidak hanya menjadi tempat untuk mengenang dan merawat warisan budaya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!