Pusat Kebudayaan Tionghoa Bandung Dibidik Jadi Magnet Wisata
Warga Didorong Jadi Pelaku Ekonomi
Dedi menekankan bahwa peningkatan kunjungan wisatawan harus memberikan manfaat langsung kepada masyarakat sekitar. Karena itu, warga tidak cukup hanya menjadi penonton dari perkembangan kawasan wisata.
Masyarakat, menurut dia, perlu diberikan keterampilan dan pengetahuan kewirausahaan agar dapat menangkap peluang ekonomi yang muncul seiring meningkatnya aktivitas wisata.
Pelatihan dapat diarahkan pada pembuatan kuliner bernuansa Tionghoa, produksi suvenir, pengembangan produk kreatif, hingga kemampuan pemasaran. Dengan demikian, masyarakat dapat memiliki sumber pendapatan baru tanpa harus bergantung pada bantuan pemerintah.
“Caranya masyarakat sekitarnya dididik bukan minta sumbangan tapi dididik punya produktivitas,” ungkapnya.
Konsep tersebut menempatkan warga sebagai bagian utama dalam ekosistem wisata. Ketika wisatawan datang, mereka tidak hanya mengunjungi gedung kebudayaan, tetapi juga dapat berbelanja produk lokal, mencicipi kuliner, serta berinteraksi dengan masyarakat.
Bagi pemerintah, pola seperti itu dapat membuat pengembangan kawasan memiliki efek ekonomi yang lebih luas. Perputaran uang dari aktivitas wisata diharapkan tidak hanya berhenti pada pengelola destinasi, tetapi juga mengalir kepada pelaku usaha kecil di lingkungan sekitar.
Pagelaran Sunda-Tionghoa Rutin
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!