Pusat Kebudayaan Tionghoa Bandung Dibidik Jadi Magnet Wisata
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memiliki pandangan serupa. Ia menilai keberadaan Pusat Kebudayaan Tionghoa semakin memperkuat citra Bandung dan Jawa Barat sebagai wilayah dengan keragaman budaya yang tinggi.
Namun, Dedi mengingatkan agar gedung tersebut tidak berhenti sebagai bangunan megah yang hanya menjadi simbol atau mercusuar. Menurut dia, keberadaan pusat kebudayaan harus memberikan dampak nyata bagi lingkungan di sekitarnya.
“Gedung ini tidak boleh menjadi mercusuar yang semakin menjauhkan disparitas dengan lingkungan,” ujar Dedi.
Karena itu, Dedi mendorong agar pengembangan pusat kebudayaan dilakukan bersama dengan penataan kawasan di sekitarnya. Dengan cara tersebut, keberadaan gedung dapat terintegrasi dengan kehidupan masyarakat dan memberikan peluang ekonomi bagi warga.
Ia bahkan mengusulkan kawasan tersebut dikembangkan sebagai destinasi wisata baru yang memiliki identitas budaya kuat. Penataan tidak hanya dilakukan di dalam area pusat kebudayaan, tetapi juga mencakup akses dan lingkungan di sekitarnya.
Salah satu gagasan yang disampaikan adalah memberikan sentuhan ornamen Tionghoa pada akses menuju kawasan, termasuk Gerbang Tol Pasir Koja. Menurut Dedi, identitas visual tersebut dapat menjadi penanda sekaligus memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung yang datang ke kawasan.
Penataan trotoar dan penerangan juga dapat diperkuat dengan penggunaan lampion. Sementara itu, lingkungan permukiman di sekitar kawasan perlu ditata agar lebih rapi, bersih, dan menarik.
Jika dilakukan secara konsisten, penataan tersebut diharapkan dapat membentuk satu kawasan wisata yang tidak hanya berpusat pada bangunan utama, tetapi juga memiliki karakter kuat sejak pengunjung memasuki kawasan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!