Pusat Kebudayaan Tionghoa Bandung Dibidik Jadi Magnet Wisata
Selain penataan fisik dan pemberdayaan ekonomi, Dedi mengusulkan agar kawasan tersebut secara rutin menjadi tempat pagelaran budaya.
Pertunjukan dapat digelar secara mingguan atau bulanan dengan menampilkan perpaduan kebudayaan Sunda dan Tionghoa. Menurut Dedi, kegiatan tersebut dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus membuka ruang perjumpaan antarbudaya.
“Seminggu sekali, sebulan sekali dibikin pagelaran. Biar Pemprov yang biaya pagelarannya, enggak apa-apa, yang penting orang datang. Nanti pagelaran Sunda dengan Cina. Sunda dan Tiongkok,” katanya.
Pagelaran rutin juga dinilai dapat membuat kawasan terus hidup. Pengunjung memiliki alasan untuk datang kembali karena selalu ada agenda budaya yang berbeda.
Di sisi lain, kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bagi seniman dan komunitas untuk menampilkan karya. Kebudayaan Sunda dan Tionghoa dapat ditempatkan bukan sebagai dua identitas yang terpisah, melainkan sebagai bagian dari dinamika budaya masyarakat Jawa Barat.
Dedi menilai hubungan antara masyarakat Sunda dan Tionghoa sendiri bukanlah sesuatu yang baru. Interaksi keduanya telah berlangsung lama dan tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Pengaruh budaya Tionghoa dapat ditemukan dalam kuliner, bahasa, tradisi, hingga berbagai kebiasaan yang telah berbaur dengan kehidupan masyarakat Jawa Barat.
Karena itu, keberadaan Pusat Kebudayaan Tionghoa dapat menjadi momentum untuk memperkuat kembali hubungan tersebut melalui pendekatan kebudayaan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!